HUJAN sedang ingin menari, liuk angin berputar erotic, meraih segala yang teraih dijalanan yang terlewatinya. Lalu terlihatlah pemandangan maturisme bersama sampah-sampah yang dibuang manusia berhati amis. Aromanya mengundang lalat pencium kebusukan.

Dendang para bocah hujan berlarian ceria, lupakan dulu tentang jalan penghubung yang belum juga terbangun. Seperti janji-janji dengan akurasi kosong. Bernyanyi saja lagu-lagu rahmat agar jiwa munafik tak tercatatat laknat.

Dipinggir kali dinegeri kurcaci, masih ada gemericik suara bening, jernih mengalir menembus muara yang telah terkontaminasi kapitalisme. Capung terbang sendiri, sesekali menyapa arus, memanggil sisa-sisa ikan dan udang yang terhimpit di bebatuan, ketakutan.

Bumiku, langitku, hijau dan birumu tertutup selendang hitam. Ratu polusi perlahan meracuni populasi lewat jubah-jubah sutra, tas-tas kulit yang terbuat dari kemiskinan yang dimiskinkan. Bangga mengenakan topi kebodohan yang dibodohkan.

Segelintir dalam diari tertulis. Mereka setia pada sang pembawa sabda. Tak usang oleh zaman, tak aus digerus waktu. Meski perlahan tapi pasti pun populasi mereka sempurna tiada. Maka bersiaplah ketukan dan langkah dajal menjelma nyata.

Telah begitu rusak makhluk yang berlabel khalifah dimuka bumi, meski masih ada diantaranya normal bermoral, berakal namun radikal. Logo-logo cinta hanya tempelan pada cream jerawat diwajahnya.

Capung oh capung, mari bermain bersama arus. Lalu sesekali menyelam menyapa humus dan lumut. Bisikan pada air,”sisakan jernihmu agar mampu membasuh luruh dosa-dosa yang membelenggu.”

Tentang capung dan cinta…

Dalam sebait sajak semoga masih ada kesejatiannya. Terbang selalu  dipinggiran hutan untuk kau mampu membedakan mana udara murni mana polusi. Dan hujan menjadi saksi disatu danau dalam laut, dua rasa tetap terpisah. **

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Dinilai Peduli Terhadap Pekerja Perempuan, Dinkes Dianugerahi Penghargaan

KARTINI – Perempuan bekerja saat ini trennya semakin naik dan lembaga/perusahaan pun…