HIRUK pikuk pesta menjelma, bersiap diafragma membidik ekstra. Diantara gerai indah hiasan singgasana. Esok kemenangan raja semalam atas keberhasiannya menyunting permaisyuri. Waktu bagian dari perjuangan menyematkan cincin di jari manis.

Mereka sibuk bercerita tentang kisah 1001 malam. Sedang lampu ajaib tak juga mengeluarkan asap berubah menjadi astral yang patuh dan mengabulkan setiap permohonan. Tetaplah kerja keras yang menuntun menuju tujuan.

Takdir memang Tuhan yang tuliskan. Tapi jalan yang terbentang dan bercabang adalah sebuah proses yang harus dilalui setiap orang. Begitu juga setiap peristiwa yang kita lalui, seperti berlian yang ahirnya menjadi mahkota sangat bernilai.

Satu diutara satu lainnya diselatan, ketika pemilik cinta menuntun untuk dipertemukan. Maka dibelanga menjadi satu rasa yang saling melengkapi. Saat gunung kau daki, lautpun kau seberangi menjadi bait-bait puisi pemikat hati.

“Ijinkan aku tetap menjadi bagian, meski musim berganti.”

Bunga memohon pada mentari yang garang membawa musim gugur. Senyumnya tersungging segaris penuh misteri. Kumbang-kumbang berterbangan diantaranya. Harumnya mengundang hasrat untuk mencumbu embun diujung kelopaknya yang ranum.

Bingkai saja rindu menjadi gambar-gambar bisu. Usah riuh tentang lingkaran yang sibuk menacari permulaan dan akhir dari garis hingga menjadi bulatan. Lalu dilempar kesana kemari oleh bola-bola mengapung diudara serupa gelembung. 

Biarkan pelaminan itu tetap kosong. Sementara laut dan dan bumi menyatu tanpa legalitas sakral. Waktu jua membuktikan, akan datang dia yang pantas menjadi sepasang pengantin untuk menetap membangun pondok cinta, kokoh tanpa bilangan.**

Kuningan, 181021Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Dinilai Peduli Terhadap Pekerja Perempuan, Dinkes Dianugerahi Penghargaan

KARTINI – Perempuan bekerja saat ini trennya semakin naik dan lembaga/perusahaan pun…