TERBARING lelap tak beralas. Mang Diman dibuai mimpi, lelah hari tak sudah membilang sampah pemukiman berdasi. Dari plastik omong kosong hingga kardus berisi potongan bayi.

“Mang, istirahatlah.”

Segelas kopi dan sepotong ubi lahap mengukir senyumnya.  Menghapus suara resah perutnya untuk  menyambung tenaga yang tersisa. Sepasang mata memandang hampa menembus bak penampungan berisi cinta sesama pejantan.

Adzan  berkumandang, panggilan cinta Sang Pencipta menyusup ke relung yang tangguh.  Diseka keringat tanpa keluh. Bersegera membasuh tubuh dan berwudhu. Teras mesjid kelu mendengar dzikir lirihmu.

Aromamu lebih harum dari mereka yang mandi parfum duniawi. Semerbakmu dirindu firdaus. Setiap detak dan langkah berisi istighfar dan syukur. Membuat iri para malaikat, hingga sayap-sayapnya mengembang tak sabar, menunggu perintah membawamu pulang.

“Mang, istirahatlah.”

Beranjak tegar tiada keraguan. Menapaki tangga masjid dengan wajah dibalut cahaya. Karung itu mengajaknya pergi, mencari sampah yang bukan serapah orang-orang yang kalah oleh kemiskinan.

“Mari lanjutkan perjalanan, mang.”

Selalu ada rizki bagi mereka yang ikhtiar. Entah berupa botol arak yang tak habis diteguk pemabuk setengah agama. Atau lembaran duz bekas  bernoda dosa.  Kan ditukar dengan sepiring nasi buat keluarganya.

Dan tubuh kurus istrinya masih terasa hangat dalam dekapan kala malam dililit dingin oleh rindu. Saat semuanya rebah dalam lelah dan senyap meredam angin yang nyaris menenerbangkan pondok kertasnya. **

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Dinilai Peduli Terhadap Pekerja Perempuan, Dinkes Dianugerahi Penghargaan

KARTINI – Perempuan bekerja saat ini trennya semakin naik dan lembaga/perusahaan pun…