BERDESAKAN rindu itu bak lahar yang terlalu lama terbenam. Ledakan itu tidak melelehkan semua yang terlewatinya. Biarkan sekeping hati saja yang hangus sendirian, setelah itu kembali utuh tanpa bekas luka terbakar.

Simpan saja setiap kata pada peti berkunci, lalu kubur jangan ditanam jika akan tubuh pada perdebatan. Tapi biarkan tersimpan di ruang khusus, dimana tak seorangpun mampu menemukannya, cukup dirimu sendiri.

Perempuan itu memilih senja dan merah tembaga sebagai teman bercengkrama. Merampungkan rindu pada syahdunya nan lembut. Melahirkan barisan kata puitis. Lalu bercerita pada bunga-bunga tentang artinya menanti. Entah apa yang dinanti ?

Satu siang yang panas, perbincangan itu terdengar, antara bunga dan matahari yang membicarakan perempuan itu, perempuan yang selalu berdiri diawal pagi dan di ujung sore.

Bunga : “Ada yang selalu menunggumu, matahari.”

Matahari : “Betapa beruntungnya, aku.”

Bunga : “Seperti aku yang selalu mekar saat tersiram cahaya emasmu.” Tersenyum malu-malu mengakui akan kerinduannya.

Matahari : “Aku tahu, dan aku akan terus memberi cahaya terbaikku, meski itu tidak hanya untukmu.” Jawabnya penuh percaya diri.

Bunga :”Seperti dia, yang selalu menunggumu diawal pagi dan diujung senja.” Seraya menunduk, menekuri bumi yang setia menjadi pijakan, namun terabaikan adanya.

Matahari : “Hiduplah berdampingan, tanpa keinginan satu dari yang lain menjadi yang tunggal, karena hanya Dia-lah yang tak mungkin terbagi.”

Perempuan itu telah berdiri bersisian bersama bunga, menunggu matahari pulang. Memberinya selimut dan mencium keningnya dengan sebuah doa dan ucapan.
“Selamat malam, kasih. Tidurlah dengan damai.”

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

80 Persen Kematian Akibat Serangan Jantung Ternyata Dapat Dihindari

KARTINI –  Jantung merupakan salah satu organ yang harus dijaga kesehatannya, a…