Oleh : Dessy Kushardiyanti, M.A., (Dosen Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

MAHASISWA sebagai bagian dari civitas akademika dalam lingkungan universitas berhak mendapatkan mutu pendidikan yang baik. Pelayanan pendidikan mahasiswa pada program studi dilaksanakan salah satunya oleh Dosen sebagai tenaga pengajar di lingkungan instansi pendidikan tak terkecuali pada level universitas.

Semenjak pandemi Covid-19 melanda, para dosen semakin disibukkan dengan mencari metode belajar yang tepat, tak terkecuali metode belajar berbasis konten di media sosial. Salah satu inspirasi yang sering ditemui sebagai bahan ajar yang menarik adalah melalui video pembelajar yang sudah banyak diunggah di Youtube, tak terkecuali oleh para dosen milenial.

Hal tersebut juga dapat membuka jejaring yang lebih luas di kalangan mahasiswa dan umum untuk mempermudah menemukan bahan ajar yang relevan dengan keilmuannya. Apalagi, mahasiswa di era sekarang termasuk dalam generasi muda yang melek teknologi dan perkembangan media digital termasuk media sosial.

Sejauh ini, media sosial Youtube terbatas hanya digunakan oleh para mahasiswa sebagai saluran untuk menyerahkan tugas konten digitalnya saja. Padahal jika hal tersebut dapat konsisten dilakukan oleh para dosen, maka ilmu yang disebarluaskan bukan hanya sebatas untuk mahasiswa di kampusnya saja, namun juga masyarakat umum yang membutuhkan materi tersebut, hal ini tentu membuka jejaring ilmu di tengah krisis pandemi covid yang semakin menyulitkan aksesbilitas dalam belajar dan memperoleh ilmu.

Permudah Presentasi Materi

Konten belajar di Youtube juga dapat menjadi salah satu metode belajar asynchronous antar mahasiswa dan dosen. Hal ini tentu akan mempermudah para dosen dalam hal efektivitas waktu presentasi materi.

Bayangkan saja, jika dosen memperoleh 3 mata kuliah dalam sehari dan berurutan, hal ini pasti akan melelahkan, berbeda jika telah ada konten video belajar, Ia cukup memberikan space waktu tiap pertemuan dengan mahasiswa untuk melihat video pembelajaran terlebih dahulu, baru setelah itu dapat dilanjut sesi diskusi sesuai kebutuhan.

Berdasarkan riset dari Kominfo melalui hasil “Seminar Sehari Internasional Penggunaan Media Digital di Kalangan Anak dan Remaja di Indonesia” diambil dari laman Kominfo.go.id, bersama dengan Kementerian PPPA bersama UNICEF telah meluncurkan hasil studi ground-breaking.

Hasil studi tersebut menganalisis aktivitas dan perilaku online dikalangan anak dan remaja dalam studinya yang bertajuk Studi berjudul “Digital Citizenship Safety among Children and Adolescents in Indonesia” (Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia).

Analisa tersebeut menyebutkan bahwa penggunaan media sosial dan digital menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia terdapat 98 persen dari anak-anak dan remaja yang disurvei tahu tentang internet dan bahwa 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet.

Hal ini tentu menjadi peluang bagi fasilitator pendidikan untuk memperbaiki aksesbilitas konten pembelajaran di media sosial. Terkait penggunaan Yotube sebagai pilihan metode belajar bagi para dosen, dapat dikatakan menjadi salah satu media terendah termasuk jika dibandingkan dengan media sosial lain.

Jika para dosen dapat memanfaatkan konten video belajar dengan maksimal, bukan hanya memperluas jaringan ilmu namun juga dapat menggunakan waktu yang tersisa sebagai pemberdayagunaan di aspek kontribusi yang lain misal dalam hal penelitian, pengabdian atau ranah struktural. Sehingga akan lebih efektif dan efisien.

Konten video pembelajaran yang telah dibuat oleh dosen juga berlaku hingga waktu tak terbatas dan dapat digunakan berulangkali kecuali terdapat penambahan materi atas dasar perkembangan ilmu dari waktu ke waktu.

Berikut contoh konten video belajar yang sudah diaplikasikan oleh para dosen milenial di media sosial Youtube:

Gambar di atas menunjukan konten video belajar sebagai koleksi milik Universitas Sebelas Maret sebagai fasilitator para dosen untuk menyampaikan materi pembelajarnnya. Serta keaktifan Youtub universitas untuk membuat Playlist berdasarkan mata kuliah berdasarkan dosen yang diampu. Tentu hal tersebut sekaligus dapat meningkatkan engagement selain antar mahasiswa juga publik terhadap kampus.

Selanjutnya konten video belajar juga dapat dilakukan sebagai konsumsi personal dosen melalui kanal Youtube-nya, seperti yang dilakukan oleh Naurissa Biasini, dosen Komunikasi asal Universitas Pembangunan Jaya dan Dessy Kushardiyanti, dosen Komunikasi Penyiaran Islam Syekh Nurjati salah satunya dapat menggunakan format video animasi maupun konten video presentasi.

Masih banyak lagi contoh implementasi dari konten video belajar yang dilakukan oleh para civitas akademik, untuk menunjang metode pembelajaran dan efektivitas waktu belajar para mahasiswa, sehingga presentasi terlihat rapi, terarah dan waktu yang terbuang dapat digunakan untuk sesi diskusi atau daya guna pada aspek yang lain.

Youtube sendiri juga telah mengadakan creator academy, sebuah pelatihan online yang dapat diakses oleh pengguna Youtube dalam memulai membuat konten dan channel.

Dengan beberapa pilihan kursus tenu hal ini dapat digunakan sebagai fasilitas penunjang skill bagi para fasilitator pengajar untuk memulai membuat channel pendidikan di kanal media sosial Youtube.

Untuk menunjang metode pembelajaran berbasis konten video belajar di media sosial ini, tentu perlu upaya peningkatan mutu oleh instansi pendidikan misal dalam bentuk kegiatan pelatihan pembuatan video belajar berbasis konten di media sosial sesuai kebutuhan, mengingat pentingnya keterlibatan para pengajar milenial untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan di tengah banyaknya tenaga pengajar senior yang ada di setiap instansi pendidikan.

Harapannya, dengan penerapan video pembelajaran berbasis konten di media sosial Youtube dapat meningkatkan mutu pendidikan bagi mahasiswa dan para civitas akademik, serta dengan kekuatan engagement antar pengguna di media sosial juga dapat membawa nama baik instansi sebagai instansi pendidikan yang ethical, innovative, dan excellent.**


Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…