KARTINI – Salah seorang mahasiswa paska sarjana Bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang (UNNES) asal Kabupaten Kuningan mewakili negara Slovakia Eropa Tengah untuk mengikuti simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Mahasiswa tersebut adalah Dian Aprianti. Dian asal Indonesia dengan 125 peserta lainnya dari berbagai negara seperti Philipina, Vietnam, Amerika, Inggris, Australia, dan lainnya betukar ide dari berbagai latar belakang bersama Dewan Eksekutif, Pers Internasional dan Delegasi Internasional berkoalisi belajar tentang diplomasi, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Hubungan Internasional.

Acara tersebut diselenggarakan International Model United Nation (IMUN) yang didukung oleh Australian Embassy Thailand and Vietnam dan United Nations Development Programme, selama dua hari, tanggal 22-23 Agustus 2021, melalui virtual.

“Simulasi sidang tersebut mendorong forum konstruktif untuk dialog terbuka tentang isu-isu global yang kompleks, termasuk perdamaian dan keamanan internasional serta kemajuan ekonomi dan sosial,” ujar Dian kepada http://kartinikuningan.net.

Dipaparkan Dian, simulasi tersebut juga menekankan pemeriksaan mendalam dan penyelesaian masalah mendesak dengan menekankan proses daripada hasil. Delegasi juga akan mendapatkan wawasan tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dinamika hubungan internasional dengan mengambil peran perwakilan PBB dan anggota badan internasional lainnya serta kabinet nasional.

“Pengalaman yang didapat dari simulasi tersebut adalah untuk belajar pentingnya menyeimbangkan kepentingan nasional dengan kebutuhan masyarakat internasional. Kita dituntut berperan sebagai delegasi sebuah negara di dunia seperti negara di Benua Amerika, Eropa, Asia dan Australia,” katanya.

Dian sendiri ditentukan IMUN mewakili Slovakia (negara Eropa Tengah), untuk membawakan bidang UNESCO (salah satu bidang dibawah naungan PBB).

Kita Harus Berpikir Kritis

Delegasi kemudian mempresentasikan isu-isu apa yang terjadi di negara yang diwakilinya dengan melakukan research terlebih dahulu tentang negara bersangkutan.

“Yang tidak kalah menarik adalah selain memperdebatkan isu-isu yang dihadapi para pemimpin dunia, namun kita juga dituntut untuk menyusun resolusi dalam menanggapi isu-isu global dan bekerja dengan orang lain yang sama-sama termotivasi dan bersemangat tentang topik perdebatan,” papar perempuan asal Kecamatan Pancalang itu.

Simulasi sidang yang seharusnya diselenggarakan di suatu negara, tetapi karena Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan simulasi untuk berlangsung. Sejak tahun 2020 simulasi sidang PBB dilakukan secara online sampai dengan saat ini.

“Dari pengalaman mengikuti simulasi tersebut diantaranya adalah kita harus berpikir kritis, mengembangkan pengetahuan yang lebih dalam tentang isu-isu global saat ini. Selain itu, memperkuat keterampilan diplomasi dan mengembangkan ide-ide untuk memecahkan masalah internasional saat ini,” tambahnya.

Ada satu hal penting lagi dari acara tersebut, yakni ‘leadership’. Kepemimpinan diri merupakan kemampuan untuk memimpin diri sendiri dalam mencapai tujuan dan sasaran pribadi ataupun professional.

“Melibatkan pemahaman yang baik tentang siapa, kemana, dan apa yang dicapai serta kemampuan untuk dapat mengendalikan emosi dan perilaku kita. Dengan kepemimpinan membuat kita lebih efisien dan produktif, termotivasi dan bertanggung jawab, membangun hubungan yang lebih kuat dengan rekan kerja, serta menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejak kita,” katanya diakhir perbincangan. (kh)***

Facebook Comments

Check Also

Dinilai Peduli Terhadap Pekerja Perempuan, Dinkes Dianugerahi Penghargaan

KARTINI – Perempuan bekerja saat ini trennya semakin naik dan lembaga/perusahaan pun…