LUMRAH sudah mendekati 17 Agustus, hiruk pikuk diberbagai sudut nusantara. Hiasan terlihat dominan merah putih. Entah mengerti arti merah putih itu sendiri atau hanya ikut-ikutan karena takut dibilang tidak nasionalis.

Jika dulu perjuangan untuk sebuah kemerdekaan benar-benar memepertaruhkan nyawa hingga tiap tetes darar sangat bernilai. Lalu bagaimana dengan arti mengisi kemerdekaan itu sendiri. Benarkah sudah benar-benar merdeka?

Atau masih banyak bentuk penjajahan yang tidak disadari. Entahlah. Yang terlihat bagaimana di dua tahun ini sejak pandemi menjadi alasan morat-maritnya sitem pendidikan generasi penerus bangsa. Miris melihat anak-anak usia 8 tahun setara kelas 2 sekolah dasar bahkan masih tidak tahu huruf apalagi membaca.

Lalu bagaimana dengan ijazah yang berlabel lulusan pandemi. Bisakah dipertanggungjawabkan tentang kualitas generasi itu sendiri. Lalu sejauh mana upaya kita mengatasi hal tersebut. Tidak hanya berkoar-koar menghujat sistem dan pemerintahan.

Merdeka itu tidak mudah. Tiap hurufnya adalah perjuangan yang tak bisa di deskripsikan pengorbanannya oleh apapun. Mereka yang gugur di medan perang layaklah di sebut pahlawan. Lalu siapakah kita sekarang? Pahlawan atau hanya orang-orang bermulut besar yang pamer mengobrak-abrik kebobrokan negeri tanpa upaya dengan memberi solusi.

Kemerdekaan selayaknya saling mengisi. Bukan memperbanyak opini sebagai ladang panas memprovokasi. Indonesia terdiri dari berbagai warna kulit, suku, bahasa dan budaya juga agama. Tapi dari dahulu perbedaan itulah menjadikan kita disebut Nusantara.

Perbedaan bukan permusuhan. Perbedaan bukan bara dalam sekam. Perbedaan adalah pelangi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bertanah air. Siapapun kita, Indonesia itulah tanah air kita.

Mari satukan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan ini dengan mengisinya oleh karya dan prestasi. Bukan provokasi dan manipulasi berita hingga menimbulkan konflik. Negeri ini sedang berduka karena wabah tak juga sirna. Setidaknya jangan biarkan rapuh oleh imunitas yang dihancurkan oleh dirinya sendiri.

Indonesia pasti bisa dan tangguh dalam segala uji. Mari jernihkan hati dan pikiran. Jangan mudah menerima kabar meski berita berseliweran. Lakukan apa yang kita bisa untuk kemerdekaan ini. Mulailah dari sekitar kita.

Selamat Hari Ulang Tahun Indonesia ke 76. Usia bukan sekedar hitungan. Tapi penggalan untuk mengingatkan besarnya perjuangan. Maka dari itu pertahankan dengan mencipta prestasi dan terus berinovasi untuk solusi menuju kesejahteraan seluruh bangsa. Merdekaaa. (Vera)**

Facebook Comments

Check Also

80 Persen Kematian Akibat Serangan Jantung Ternyata Dapat Dihindari

KARTINI –  Jantung merupakan salah satu organ yang harus dijaga kesehatannya, a…