Oleh : Vera Verawati

TENTANG rasa. Ini tangga keberapa yang kutapaki, entahlah. Enggan pagi menghitungnya, agar tak terasa lelah dan berjelaga kaki usah peduli. Waktu sudah banyak terbuang. Sembunyikan setiap hal yang harusnya diutarakan pada embun, pada akhirnya menyimpan bara dalam sekam.

“Aku membutuhkanmu.”

“Jatuh cinta lagi setelah padamu”

“Sedang jenuh, beri aku waktu.”

Dan ketika semua kalimat itu terucap, haruskah ada nilai kejam. Jika kejujuran pada akhirnya sebuah kejahatan pada komitmen yang terjalin. Lalu muliakah menyimpan kebohongan dengan dalih tak ingin menyakiti.

Jujur tentang rasa. Seperti halnya saat matahari yang murung, ketika  kabut tetiba turun dengan anggun. Menutup seluruh kegagahannya. Mengaburkan kehangatan yang coba disampaikan pada pepohonan yang menjulang.

Ini rasa bukan garam yang asin  dengan tegas, bukan gula yang manisnya pasti. Bukan pula kedali yang pahitnya tak bisa di ingkar. Ini rasa. Kadang suka, kadang jenuh, kadang rindu, kadang cinta, kadang benci tapi ada yang mencintai sampai mati.

Jujur hal yang tak sulit dilakukan. Baik kata, sikap dan hati. Jika jujur maka selaraslah ketiganya. Tapi jika jujur berarti menyakiti, percayalah. Setelah itu tenanglah hati. Tak ada yang menghantui termasuk rasa bersalahmu.

Jika dengan alasan rahasia biarkan tetap menjadi rahasia, bersiaplah dengan kejutan besar di hidupmu berikutnya. Satu dari kunci penentu yang menjadikanmu besar satu saat nanti adalah kejujuran. Apapun kondisinya jujurlah terhadap dirimu sendiri pada orang-orang yang kau temui setelah aku.

Jadi, bersiaplah menyambut senja dengan lapang dada. dan waktu bergerak memberikan damai. Tanpa khawatir seseorang datang dari lorong rahasia dan membawa cerita usang yang penuh luka, bersiap menghantar dendam. ***

Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…