HARI Anak Nasional tepat tanggal 23 Juli 2021, namun pandemi belum juga berakhir. Wajah-wajah polos merindukan luasnya arena lapangan bermain, dan hangatnya belajar dalam kelas. Berbagi canda dan tawa dengan teman. Serta duduk manis mendengarkan guru mengajar. Aktif mencipta dengan berbagai kreatifitasnya yang jenius.

Menurut data dari Survei Kekerasan Terhadap Anak Indonesia oleh Kementrian Sosial pada tahun 2013 menyebutkan hampir setengah populasi anak laki-laki yakni sekitar 7 juta anak dan sekitar 2 juta anak perempuan mengalami kekerasan.

Kekeraasan bisa berbentuk kekerasan fisik, seksual, emosional, dan eksploitasi. Seperti diketahui pandemi yang memasuki tahun ke dua ini menambah angka kenaikan pada kekerasan anak, baik fisik maupun psikologis.

Beberapa isu nasional yang masih menjadi sorotan hingga saat ini di Indonesia sendiri diantaranya :

  1. Kekerasan Anak

Pandemi memberi dampak luar biasa pada tatanan sosial di masyarakat. Termasuk faktor ekonomi yang menjadi penyebab utama terjadinya kekerasan pada anak. Tidak saja kekerasan fisik juga kekerasan psikologis yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya termasuk orang tuanya.

  1. Pekerja Anak

Tersudut oleh keadaan menjadi pemandangan yang biasa menyaksikan anak-anak bekerja terutama sejak virus covid- 19 ini melanda dunia. Mereka ikut orang tuanya membantu di sawah, di pasar, berkebun hingga bekerja kasar untuk meringankan tugas para orang tua. Tanpa memperdulikan resiko yang ditimbulkan setelahnya.

  1. Pendidikan Anak

Angka anak-anak yang putus sekolah meningkat setelah pandemi. Proses belajar secara daring menjadikan sistem pendidikan kurang maksimal di dapatkan oleh anak-anak. Pendidikan yang dilakukan di rumah jua memiliki banyak sekali kelemahan terutama kurangnya pemahaman orang tua dalam mendapingi proses belajar anak.

Ketiga hal tersebut masih meninggalkan tugas yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Menjadi kewajiban kita semua untuk melindungi dan memberikan apa yang menjadi hak mereka. Mari hentikan kekerasan pada anak-anak bagaimanapun bentuknya. Visualisasikan dengan penuh kasih jika ingin menegurnya.

Penuhi haknya untuk mendapatkan kasih sayang meski sesibuk apapun. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka. Damping saat belajarnya. Serta upayakan untuk tidak melibatkannya dalam mengatasi persoalan ekonomi. Dunia anak-anak adalah dunia bermain dan mencipta.

Berikan pendidikan terbaik meski media online sebagai upaya pembelajaran. Jangan biarkan kondisi ini justru memberi peluang lebih besar pada anak-anak semakin terperosok pengaruh negativ media online. Nasib bangsa ini ada pada anak-anak kita. Mari wujudkan Indonesia Maju dengan memberikan perlindungan terbaik untuk anak-anak. (Vera berbagai sumber)**

Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…