Oleh : Mely Pemilia

SERING kita membuat stigma kurang baik tentang perempuan. Perempuan dianggap lebih banyak kekurangan meskipun telah melakukan banyak kebaikan.

Berbagai kegagalan dianggap karena peran perempuanlah yang kurang. Baik dilingkungan keluarga, masyarakat, hingga negara. Kontradiksi yang aneh karena secara sadar menunjukan bahwa perempuan memiliki posisi penting yang tidak bisa digantikan.

Namun demikian, tetap saja fisik perempuan yang lemah, senantiasa menjadikan perempuan dianggap tidak berguna. Padahal, filosofi perempuan sebagai seorang ibu dengan berbagai kehebatanya patut diakui.

Saya menulis catatan ini bukan karena ingin menyampaikan apa yang ingin perempuan sampaikan. Akan tetapi lebih pada apa yang seharusnya masyarakat berikan kepada perempuan, sebagai manusia yang sama dimata Tuhan.

Tidak sedikit perempuan yang terluka karena sebuah kebijakan. Diskriminasi pada sektor ekonomi, seperti pekerjaan. Tidak diterima bekerja karena ia seorang perempuan, yang tidak mampu bekerja sampai malam, yang memiliki tenaga yang lemah, yang mendapatkan banyak gangguan, hamil, melahirkan, dan kodarulloh lainnya.

Selain itu, kepemilikan perasaan yang lebih sensitif dianggap tidak menguntungkan, alasanya akan menghambat pekerjaan, dan segudang masalah lainya.

Banyak catatan sejarah yang mengakui kehebatan perempuan, mulai dari jaman Rasululloh di daratan Arab hingga daratan Eropa. Sayang, hal itu hanya akan diceritakan saat kepentinganya berpihak kepada kaum adam saja. Selebihnya, perempuan tidak ada artinya, hanya peran domestik saja, seputar kasur, sumur, dan dapur.

Kali ini, setelah hampir setengah usia aku bergelut dengan pekerjaan, layaknya perempuan modern, pada akhirnya kali ini lebih dibutuhkan berperan sebagai perempuan yg umumnya dicibir sebagai pekerja domestik: mengurusi suami yang sakit.

Kebutuhan makan, minum, memandikan, membersihkan kotoran, dsb. Ternyata tidak lebih mudah dari pekerjaan selama ini. Butuh tenaga lebih besar, keterampilan lebih banyak, dan kecerdasan emosional lebih tinggi. Aku yakin, tidak semua perempuan bisa melakukanya, dan tidak semua laki-laki mau mengakuinya.

Tapi, apalah arti dari pengakuan dan kesadaran diri yang tidak berujung pada keridhoanNya. Semua hanya menjadi cerita klasik yang setiap masa dan setiap generasi akan mengalaminya.

Salut buat kalian, para perempuan hebat, para ibu rumah tangga. **

Facebook Comments

Check Also

Dinilai Peduli Terhadap Pekerja Perempuan, Dinkes Dianugerahi Penghargaan

KARTINI – Perempuan bekerja saat ini trennya semakin naik dan lembaga/perusahaan pun…