Oleh : Vera Verawati

PADA satu kursi disalah satu pojokan galeri kopi. Wanita bertudung rindu datang membawa segenggam keinginan, dipesannya segelas capuchino untuk membasahi tenggorokan yang tercekat oleh gelisah.

Abaikan riuhnya wanita-wanita penggila suara yang gaduh oleh nyanyian acak tak tentu nada. Hingga rasa pekak telinga ini mendengarnya. Di sudut lain beberapa lelaki dengan lintingan tembakau beraroma tajam di antara jari telunjuk dan jari tengah menghembuskan asap bulat berputar-putar.

Mencoba menarik perhatian perempuan di pojokan dengan segelas cappuchino dimejanya. Kedua kakinya dilipat bersila di kursi gantung. Sebuah buku dipangkuan coba di baca sembunyikan resah yang menggugah asa.

Tentang bilangan waktu juga rentangan jarak menguji sebuah impian hari depan. Adakalanya tak jua mampu membendung. Rasa ingin tahu tentang sosok yang sedang berjibaku dengan tumpukan kertas-kertas buram berisi angka-angka semu.

Perempuan dipojokan galeri kopi. Pada segelas cappuchino terlihat ukiran putih 3 hati diantara warna hitam kopi yang memudar menjadi coklat. Tiba-tiba terlihat mendung di sudut netranya. Menyadari ada 3 hati digelasnya.

Sesak menghujam dada. Resah itu kian kentara pada buku yang diangkat untuk mengaburkan pandangan dari wajahnya yang mulai berlinang air mata. Lagi dan lagi selalu ada dua arah yang memaksanya untuk memilih.

Beranjak waktu menunggu. Tanpa sadar seseorang telah berdiri dibelakangnya. Pun diam-diam ikut merasakan kegelisahannya.

“Perempuan ini terlalu pandai menyimpan, ia sembunyi bahkan dikeramaian sekalipun.”

“Suprise!” Lincah dia kagetkan.

“Hai, Nyai sudah lama datang?”

Wajah itu sertamerta ceria, air mata sirna. Tawa renyah dan senyum yang selalu tersimpul bukti ketegarannya. Semua kabut itu menguap sisakan wajah teduh meluruh kalbu. Lagi-lagi perempuan dengan segelas cappuchino itu berhasil sembunyi.

Malam ini ada bincang hangat ditemani seorang sahabat. Dan gelas chappuchino tak lagi sendiri ada secangkir arabica murni menemani. Dan hingar musik tak mampu membuatnya tuli dari suara hati. **

Facebook Comments

Check Also

Tentang Kemarin, Hari Ini dan Esok

BERSAHABAT dengan mentari, setiap pagi kau lihat senyum nan ramah bersama hangatnya. Warna…