Oleh : Dessy Kushardiyanti, M.A
Dosen Komunikasi Penyiaran Islam, IAIN Syekh Nurjati

NORMALISASI victim blamming di Indonesia nampaknya sudah menjadi kewajaran yang tak patut tumbuh di masyarakat. Apakah suatu kesalahan jika korban membela dirinya sendiri dari aksi sexual harasment, lalu kenapa malah menjadi target justifikasi hingga labeling sebagai pribadi yang tak bisa jaga diri?

Berbagai kasus pelecehan seksual marak diberitakan di media massa online, paparan pemberitaan yang seolah menyudutkan korban terkesan menjadi vulgar dimana korban tersudutkan karena rasa malu yang menimpanya dan empati terhadap pelaku atas dalih tak tahan menahan gairah melihat posting-an korban di media sosialnya.

Dilansir pada majalah Magdalene dan situs petisi online Change.org, Lentera Sintas Indonesia menyatakan 90% korban pelecehan sosial memilih diam akibat tekanan sosial dan rasa malu yang dialaminya, belum lagi pemberitaan yang tak jarang menyalahkan korban yang mengarah pada sadisme seksual.

Belum lagi stereotipe yang tumbuh pada pola pikir masyarakat bahwa korban menjadi tertuduh utama dalam tindakan victim blamming yang terjadi khususnya di media digital dan adanya landasan berpikir bahwa segala sesuatu yang sudah di-post di media sosial otomatis jadi konsumsi publik.

Hal tersebut kemudian memicu situasi yang disebut rape culture, dimana lingkungan yang kondusif untuk terjadinya kekerasan seksual salah satunya dipengaruhi oleh seperangkat nilai dan keyakinan tertentu yang tumbuh di tengah masyarakat (Boswell dan Spade, 1996).

Media digital merupakan ranah cyberspace yang kini lazim digunakan oleh siapa saja meluapkan ekspresi melalui posting-an hingga aktivitas komentar. Hal ini dapat menjadi peluang bagi penggunanya dalam melancarkan aksi pelecehan seksual yang mayoritas dialami oleh perempuan.

Hidup di jaman influencer juga terkadang menjadi tantangan tersendiri dalam menahan godaan popularitas dan pengakuan netizen, tak jarang bahkan beberapa artis mengaku risih dengan objektifitas bagian tubuh yang menjadi sasaran pelecehan seksual di media sosial.

Padahal sudah menjadi tuntutan bagi para pelaku industri hiburan untuk menjaga penampilan termasuk gaya berbusananya, namun tak jarang menjadi sasaran victim blamming oleh pengguna media sosial ‘nakal’ dengan menyalahkan cara Ia tampil dan berpakaian.

Walaupun berbagai campaign berkaitan dengan social harasment telah dilakukan nampaknya tak menyurutkan aksi pelaku apalagi kini pelecehan seksual dalam ranah media digital dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dibalut dengan candaan yang dinormalisasikan atau istilahnya rape jokes. Seperti melalui komentar, “Ada yang bulat tapi bukan tekad”, lelucon pemerkosaan, dan konten-konten unfaedah melalui ekspresi muka yang menyaratkan nafsu hingga ekspresi mesum.

Dalam mengatur emosi saat menghadapi peristiwa besar, terutama yang cenderung negatif, ada berbagai cara yang bisa dilakukan seseorang. Satu hal yang sering dilakukan adalah mempermainkan korban. Namun, selain berperan sebagai korban, ada sisi lain yang sering disebut sebagai victim blamming.

Victim blamming di Masyarakat dan Pencegahannya

Hal ini terkait erat dengan nilai budaya dan moral di Indonesia yang seringkali salah diterapkan. Tentunya nilai-nilai tersebut tidak boleh menjadi dasar terjadinya bullying. Dibutuhkan kesadaran dan edukasi yang lebih tinggi terkait dengan victim blamming pada korban.

Cegah kecenderungan victim blamming dengan memusatkan perhatian pada hal-hal penting ketika mendengar atau menghadapi peristiwa atau kasus yang tidak menyenangkan. Misalnya, pastikan korban aman dan nyaman. Selain itu, jangan lupa bahwa terbuka untuk membagikan apa yang terjadi tidak selalu mudah bagi korbannya. Karena itu, hargai dan beri mereka waktu.

Juga memastikan hak-hak korban, terutama jika kasusnya terkait dengan hukum, telah terpenuhi dan korban memiliki informasi yang lengkap tentang hal tersebut. Tak kalah pentingnya, hindari mengaitkan kejadian atau perasaan korban dengan emosi pribadi. Pastikan Anda telah menerima informasi dari berbagai sisi dan memprioritaskan logika sebelum melakukan penjurian.

Sikap victim blamming pada akhirnya tidak akan membantu siapapun, justru akan semakin menyudutkan korban. Daripada melakukan sebauh victim blamming kepada satu sama lain, lebih baik berhenti meminggirkan korban dan lebih baik dalam menangani kejadian di sekitar mereka.

Hentikan Victim Blamming
Sudah waktunya bagi kita untuk tidak melakukan sebuah aktivitas victim blamming. Ingat, yang terpenting adalah penyadaran dan edukasi tentang victim blamming dan mengapa hal itu tidak boleh dilakukan.

Fokus pada hal-hal penting saat Anda mendengar atau menghadapi kejadian tidak menyenangkan yang menimpa diri Anda atau orang lain, seperti keselamatan dan keamanan korban.

Selain itu, terkadang kita juga lupa bahwa membuka dan berbagi tentang peristiwa traumatis yang dialami tidak selalu mudah bagi para korban, sehingga banyak dari mereka yang berani angkat bicara. Dengarkan baik-baik saat korban atau penyintas akhirnya membagikan pengalaman mereka, hargai upaya mereka untuk membagikannya, dan beri mereka  sebuah waktu yang berharga.

Jika mereka masih tidak dapat memberi tahu siapa pun apa yang terjadi. Pastikan bahwa korban atau penyintas memahami aturan hukum yang relevan jika perlu dan bahwa hak mereka telah dipenuhi. Itulah ulasan tentang marilah segera akhiri sebuah budaya Victim Blamming. Semoga bermanfaat. **

Facebook Comments

Check Also

Tentang Kemarin, Hari Ini dan Esok

BERSAHABAT dengan mentari, setiap pagi kau lihat senyum nan ramah bersama hangatnya. Warna…