JUNGKAT-JUNGKIT, ketika imbang bergerak sama, berat sebelah tumpuanpun bergeser. Deretan pohon pinus menjadi saksi. Kepingan hati yang terlipat rahasia diamnya. Yang terlahir dari tempaan badai dan dahsyatnya gelombang. Perjalanan menepikan pada satu gambar. Abstrak atau full colour adalah pilihan.

Lukisan alam dan kisah tentang sepi yang indah. Berhiaskan senyap yang melelapkan pada ambang batas hayal yang tak pernah jadi nyata. Ingin ku kata dan bisikan di tepian hatinya tentang rasa yang mereksa, hingga membakar seluruh urat jiwa nan papa.

Bulan yang tersapu kabut samarkan sesungguhnya makna sebuah lukisan malam. Cahayanya menerobos bilah-bilah daun pinus yang tumbuh berjarak tapi rapat terlihat. Duduk diantaranya tubuh-tubuh bersekat pekat mencari arti hakikat pada sayap malaikat yang mungkin saja terlihat diantara gelap yang pekat.

Jutaan kata terkurung di kepala, jemariku terbatas pada kertas yang terpapas rindu yang meranggas. Bercermin pada bayangan sendiri. Mata nanar berkaca. Sembunyi di bening bulir yang hampir menitik. Menjadi gerimis perlahan luruh di keheningan.

Simpan saja wahai angin. Untukmu sendiri agar tak berhembus menguap rindu ini menjadi debu-debu penuh keluhan. Rahasiakan saja wahai kegelapan. Untukmu sendiri agar tak tersayat di luka yang sama pada raga yang hampa oleh cinta.

Kepada bulan kupanggil kekasih agar hati pastikan cukup sekeping tak terbagi. Kepada bintang kupanggil sayang agar rasa tak pernah terniat mendua. Huruf-huruf ini ku susun dari terukurnya raga yang kian berjarak pada sebuah kekosongan.

Kembali ke titik dimana aku di temukan dan kita dipertemukan. Tetaplah disana pada jiwa-jiwa yang menjaga ketaatan cinta pada Sang Pencipta semata. Karena-Nya ku nanti musim berbunga di taman hati yang hanya sekeping saja. **

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Partisipasi Perempuan Dalam Pilkades Masih Rendah

KARTINI – Peminat menjadi calon kepala desa dari partisipasi perempuan ternyata masi…