Oleh : Vera Verawati

ATAP diatas kepalaku begitu luas bagai tak terbatas. Masih diatas sajadah beratap langit. Perlahan kubaca al-kahfi. Syahdu menelisik satwa malam yang mulai berdendang riang. Suaranya adalah bahasa yang hanya mereka mengerti arti kesunyian.

Shodaqallahuladhiim.

Alhamdulillah, selesai juga. Tak beranjak, tetap duduk di tempat. Putar kepala memandang sekeliling, kegelapan yang indah. Perlahan rembulan dengan gaun tembaga muncul. Dan gemintang menari ceria. Retasnya menghias angkasa bagai titik-titik kulminasi hati di sudut sunyi.

Kucoba rebahkan diri, berbantal kedua lengan. Mencoba menembus langit yang malam itu tampil begitu cantik. Sempurna di dampingi bulan yang gagah. Cahayanya menepis kabut yang coba menghalau bias kemesraannya.

Membaca langit, dan bulan yang bergerak perlahan. Berbagi terangnya tanpa ingin mengusik lentiknya bintang-bintang..ah…alam raya jika nuansa malam seperti ini serasa sempurnalah bahagia.

Tapi

Tiba-tiba bulir-bulir bening menitik. Terkesima oleh romantisnya malam ini. Bercengkrama bersama langit. Dan diam dalam senyap mengendapkan apa yang tersimpan di otak dan hati.

“Aku yakin, langit malam ini menyampaikan permohonanku hingga ke Arsy.”

Kuusap wajah dengan beristighfar. tak akan kubiarkan gundah menggiringku pada keraguan. Sayup bisik angin lirih menembus kulit dan jantung.

“Pasti bisa!”

Dingin menyadarkanku dari imajinasi tentang langit. Bangkit dan memilih menjamu peraduan yang sedari tadi menunggu. Dengan bahunya yang setiap saat rela jadi tempatku bersandar. Meski hanya sejenak dan membangunkanku dengan sebuah ciuman di setiap sepertiga malam terakhir.

“Waktunya tahajud, kekasihku.” **

Facebook Comments

Check Also

80 Persen Kematian Akibat Serangan Jantung Ternyata Dapat Dihindari

KARTINI –  Jantung merupakan salah satu organ yang harus dijaga kesehatannya, a…