Oleh : Vera Verawati

Aroma melati lembut berdenyut, sisakan imaji tentang rindu berpagut. Waktu bisakah kau mundur, sampai dimana aku dan dia bertemu lalu hapus bagiannya. Agar  tak pernah tahu arti luka mencinta.

Narasi hati usah dipersalahkan, toh rasa itu datang dari Pemilik Cinta. Kenapa harus menolak dan menyangkal. Ringan nadamu tiada beban. Sedang bunga terlanjur bermekaran oleh harapan tentang cinta yang  memiliki.

Tunggu …

Gagah gunung berdiri tegap sempurna. Mungkinkah tiada satupun pendaki disana ? atau hanya rimbunan belantara yang telah meninggalkan hampanya cinta. Teduh bunga kecapi semerbak sebongkah rasa yang mulai dipertanyakan.

Kesungguhan ? jika kau katakan kesungguhan lalu bagaimana dengan belahan hati. tidakkah akan jadi amarah atau benci dan bersiap dengan seribu caci maki. Selalu menjadi yang salah dan dipersalahkan.

Meski ku rangkai buket bunga bukan saja dari ketulusan lili, mungkinkah dengan mawar akan bisa saling melengkapi. Bagaimana jika keduanya terluka. Atas nama cinta. Pembenaran itu bisa menjadi dalil yang musykil.

Jika langit dan awan bersisian saat angkasa berwajah sumringah, lalu bagaimana hujan turun setelah bulir-bulir itu mengkristal kemudian  mencair menjadi hujan seharian. Siapkah ketika hujatan deras mendera dan semua mata memandang penuh cela curiga.

Dimana kau berdiri ? disisi lain lautan yang buihnya kau rindukan sejak pertama dipertemukan dan kau mengikatnya pada bahtera berpasangan . Atau di sisiku yang tak mampu memberimu janji apapun selain ketulusan.

Jika aku bisa menjadi. Maka aku akan menjadi udara yang keberadaannya tak terlihat, namun kau hirup setiap saat dan kau tak bisa hidup tanpaku. tapi nyata aku hanya sebuah potret yang terpajang manis di meja kerja.

Menyaksikan penggalan cerita romeo dan juliet dan cintamu kepadanya. **

Facebook Comments

Check Also

Tim Gabungan Sisir Tempat Wisata, dan Lakukan Tes Swab Antigen

KARTINI – Kunjungan wisatawan ke sejumlah objek wisata di Kabupaten Kuningan ternyat…