Minggu, 2 Mei bertepatan dengan hari lahirnya tokoh pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara yang juga ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bertema serentak bergerak wujudkan merdeka belajar. Mari kita merunut bagaiman bongkar pasangnya sistem pendidikan di negeri ini.

Pandemi menjadi satu resolusi yang sangat besar pengaruhnya. Menerapkan pendidikan dari rumah. Menggunakan media online sebagai sarana proses belajar mengajar. Sebagian kecil saja yang bisa mengikuti proses secara maksimal.

Lalu bagaimana dengan sebagian besarnya. Pandemi membuat roda perekonomian keluarga terpuruk. Ketika anak-anak sekolah dari rumah menambah daftar kewajiban yakni mengawasi dan menemani anak-anak. Justru berefek tingkat stress pada anak didik meningkat.

Belum lagi problem nyata di lapangan. Anak-anak lebih banyak menyalah gunakan fasilitas yang ada. Karena lebih memilih asik bermain game on line dari pada belajar dan mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Kendala lainnya di rasakan bagi mereka yang tidak memiliki fasilitas berupa hanphone android. Untuk belajar tatap muka disekolah atau berharap guru yang datang kerumah untuk mengajar pun tidak berjalan efektif.

Diakui atau tidak. Pandemi dan sistem pendidikan on line justru lebih banyak dampak negatifnya. Karena kurangnya interaksi langsung dengan guru-guru memberi peluang menurunnya etitute siswa. Terbukti ketika mendekati ujian banyak guru-guru yang mengeluhkan siswa tak mematuhinya.

Serentak bergerak wujudkan merdeka belajar. Kemerdekaan seperti apa ? jika ruang kreatifitas anak tak terpantau. Mereka lebih sibuk mengupdate game terbaru ketimbang menghapal rumus matematika. Mereka lebih sibuk membuat video tiktok yang ditiru dari para orang tua. Bukan berdiskusi tentang tema pelajaran hari ini.

Miris sekali. Di saat negara-negara lain telah bicara dalam berbagai bahasa komputerisasi dan pencapaian tingkat pendidikan melesat tinggi di masa pandemi. Kita malah sebaliknya. Mampukah generasi pandemi melewati tantangan globalisasi di depan jika otak mereka lebih sibuk menghapal karakter game dan viralitas dunia maya.

Menjadi tugas bersama, terutama orang tua dan guru untuk bisa bekerja sama. Saling membantu dalam mengarahkan anak didiknya menyelesaikan pendidikan setidaknya sesuai kurikulum yang ada. Meski tingkat kualitasnya tak sebaik mereka yang tetap melakukan sekolah secara tatap muka.

Jika tempat wisata dan mall buka, kenapa sekolah di tutup. Adakah ini upaya pembodohan atau memang kita senang di bodohi dengan terus membiarkan putra-putri kita menyelesaikan pendidikan tanpa orientasi maksimal.

Generasi berikutnya mampukah menjadi pilar kokoh negeri ini ? kita lihat nanti ! **

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Tim Gabungan Sisir Tempat Wisata, dan Lakukan Tes Swab Antigen

KARTINI – Kunjungan wisatawan ke sejumlah objek wisata di Kabupaten Kuningan ternyat…