KARTINI – Batu-batu kecil yang mengelilingi Situs Batu Jangkung nampak menggambarkan kawah Gunung Ciremai yang terukir rapi dan apik, sehingga bisa dijadikan sebagai wisata alam dengan kearifan lokalnya.

Apalagi, di bawah batu bundar minatur Gunung Ciremai tersebut, terdapat pula batu agak besar yang mirip Gunung Puteri atau gunung yang lebih kecil.

Miniatur Gunung Ciremai yang terukir rapi pada batu bundar yang berukuran diameter dua meter dan tinggi satu meter tersebut menggambarkan bagian-bagian kawah yang mirip dengan kondisi aslinya. Sehingga bisa menjadi keunikan sekaligus daya tarik tersendiri untuk diteliti oleh pihak yang berkompeten.

Kepala Desa Sadamantra Kecamatan Jalaksana, H. Rasmad, saat diwawancara menjelaskan, selama menjabat tiga periode atau enam tahun dikali tiga masa jabatan, justru baru mengetahui keberadaan aset budaya yang berada di Dusun Pahing itu, baru sekitar dua atau tiga tahun lalu.

Pasalnya, para sesepuh dan tokoh desa setempat, tidak ada yang memberi tahu keberadaan sekaligus kisah yang melatarbelakangi batu bundar miniatur Gunung Ciremai tersebut. Apakah sengaja pahat dan diukir oleh orang-orang jaman dahulu sebagai bentuk informasi bagi generasi selanjutnya atau terbentuk secara alamiah karena faktor alam.

Sampai saat ini, misteri keberadaan batu bundar miniatur Gunung Ciremai yang mungkin saja peninggalan jaman pra sejarah, belum terkuak dan terpecahkan karena oleh masyarakat setempat pun dianggap hal yang biasa saja. Sehingga untuk memastikan dan menjawab teka-teki tersebut diperlukan penelitian terutama oleh arkeolog.

Sementara itu, sejumlah warga pencinta alam termasuk aparat Desa Sadamantra yang pernah mendaki Gunung Ciremai, membenarkan bahwa miniatur batu bundar tersebut hampir sama dengan gambaran aslinya. Karena informasi berharga tentang kondisi alam Gunung Ciremai beserta daerah-daerah sekitarnya terdapat di desa bersangkutan.

“Saya baru tahu beberapa tahun lalu karena para sesepuh tidak pernah menceritakan kisah terbentuknya batu bundar miniatur Gunung Ciremai sehingga sampai sekarang belum terkuak. Namun bagi warga, keberadaan batu bundar yang usianya diperkirakan sangat tua dijadikan sebagai bahan renungan lahiriah dan batiniah saja,” ujar Kades Rasmad.

Ia menerangkan, beberapa meter dari batu bundar miniatur Gunung Ciremai, terdapat dua batu panjang sejenis menhir dengan ketinggian sekitar tiga meter dan lebar mencapai dua setengah meter yang berdiri kokoh seperti gapura atau pintu masuk. Karena ada jarak di antara kedua batu bersangkutan sekitar 50 cm.

Di belakang salah satu batu yang dikenal dengan Situs Batu Jangkung (panjang), terdapat batu penyangga berukuran panjang sekitar satu setengah meter dan tingginya satu meter. Ditambah lagi, bagian depannya, dikelilingi sejumlah batu yang ukurannya cukup besar seperti menunjukan sebuah peta peradaban jaman dahulu.

“Di Blok Pahing, ada tujuh situs. Dan enam di antaranya berkaitan dengan sejarah berdirinya Desa Sadamantra. Tapi khusus Situs Batu Jangkung yang disampingnya terdapat batu miniatur Gunung Ciremai, saya maupun warga lainnya, benar-benar tidak tahu kisah yang melatarbelakanginya. Hanya saja dipercaya sebagai kunci Gunung Ciremai,” tandasnya.

Sementara itu, dalam konsep pembangunan Desa Sadamantra dua tahun ke depan, tujuh situs di Dusun Pahing dan satu Situ Pamijen di dusun lainnya akan menjadi bagian wisata religi atau budaya pada pembangunan serta pengembangan objek wisata Perahu Langit yang nantinya bakal dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung lainnya. (kh)***

Facebook Comments

Check Also

Tim Gabungan Sisir Tempat Wisata, dan Lakukan Tes Swab Antigen

KARTINI – Kunjungan wisatawan ke sejumlah objek wisata di Kabupaten Kuningan ternyat…