KARTINI – Meskipun kewenangan untuk menentukan satu dari tiga besar peserta lelang jabatan itu bupati, namun hendaknya nilai tertinggi menjadi acuan utama dalam menentukan top pimpinan SKPD.

“Ini untuk menghindari tudingan adanya Putra/i “mahkota” serta adanya kepentingan “tertentu”. Maka tidak berlebihan jika Timsel yang diketuai oleh Sekda DR. Dian RY berani untuk membuka nilai akumulatif dari setiap peserta lelang jabatan tersebut,” ujar Ketua F-Tekad, Sujarwo.

Selain itu, yang juga penting untuk dihindari dalam menetapkan calon Kadis/Kaban nanti, tidak terdengar lagi faktor usia pesera menjadi salah satu parameter penetapan. Artinya walau ada peserta yg usianya relatif masih muda, tapi akumulasi penilaian akhirnya menunjukan hasil yg maksimal tak perlu “diharamkan” untuk mendapat kepercayaan memimpin SKPD. “Karena kualitas seseorang, tidak semata ditentukan oleh usia,” tandasnya.

Munculnya berbagai prediksi atau analisa dari manapun tentunya sesuatu yg harus dihormati dan tak perlu ditampik. Karena dipastikan, apa yang akan diputuskan oleh Bupati sebagai ‘pengguna’ dari hasil lelang jabatan tersebut, didasarkan pada kebutuhan untuk percepatan pembangunan dan kemajuan Kabupaten Kuningan semata.

Sementara itu, animo pejabat eselon 3 (A dan B) yang ikut berkompetisi untuk mendapat kepercayaan menduduki jabatan eselon 2 B baik sebagai Kadis maupun Kaban ternyata masih sangat tinggi.

Hal tersebut diharapkan bisa dijadikan ajang seleksi yang diharapkan dapat menghasilkan calon pejabat yang “mumpuni” terutama dalam hal managerial. Berlimpahnya jumlah peserta lelang jabatan juga nenunjukan stok birokrat yang memenuhi persyaratan untuk posisi top pimpinan pada sejumlah SKPD di lingkup Pemkab Kuningan tidak perlu menjadi kekhawatiran tersendiri. (kh)***

Facebook Comments

Check Also

80 Persen Kematian Akibat Serangan Jantung Ternyata Dapat Dihindari

KARTINI –  Jantung merupakan salah satu organ yang harus dijaga kesehatannya, a…