Pertama :

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe tanah air Indonesia

Kedoea :

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe Bangsa Indonesia

Ketiga :

Kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

Sumpah Pemuda 92 tahun yang lalu (28 Oktober 1959 – 28 Oktober 2020 ) tercatat dalam sejarah, bagaimana pemuda dan pemudi Indonesia menyatakan bersatu melawan bentuk penjajahan apapun.

Pandemi tak menghalangi pemuda pemudi negeri ini untuk berkarya, banyak cara mereka membuktikan sumpah yang telah diguratkan generasi sebelumnya. Panggung ini bukan hanya milik para senior yang telah berakar diberbagai profesi. Namun pemuda pemudilah yang menjadi tokoh utama.

Peradaban telah jauh berbeda, generasi virtual nyaris justru memperbudak pemuda pemudi kita menjadi manusia-manusia hedonis, namun tidak berarti keseluruhan tak mampu memfilter. Karena virtualisasi justru menghadirkan pemuda-pemuda dengan karya-karya yang unik namun luar biasa.

Negeri ini tengah berada dalam bahtera yang sedang terombang ambing. Sesaat kita menyaksikan kemarahan pemuda pemudi negeri dalam berbagai demonstrasi besar-besaran hampir diseluruh wilayah Indonesia. Kekecewaan terhadap berbagai keputusan pemerintah, jiwa mudanya merasa terpanggil, namun disayangkna anarkisme menjadi catatan hitam dari sebuah perjuangan masa depan bangsa.

Mewarnai kehidupan, negeri ini membutuhkan pemuda pemudi yang memiliki jiwa nasionalis tinggi, tidak saja mencipta karya melainkan mengajak pemuda-pemudi lainnya berbaur dalam berbagai perbedaan. Jadilah kreator jangan melulu menjadi follower di negri sendiri.

Bahasa boleh saja beda, suku dan adat budaya bisa saja tak sama, agama dan keyakinan berlainan. Tapi kita Indonesia yang mempersatukan itu semua menjadi sebuah pelangi nusantara yang indah yang membuat mata dunia iri untuk memilikinya.

Maka mari bersatu dan bangkit, di Hari Sumpah Pemuda ke-92. Kuatkan tekad, satukan dengan cinta sesama, jadikan perbedaan adalah keindahan, bukan justru menjadi senjata yang memecahkan itulah pemuda-pemudi Indonesia yang berbangsa satu Bangsa Indonesia. **

Oleh : Vera Verawati (Kuningan, 28 Oktober 2020)

Facebook Comments

Check Also

Tentang Kemarin, Hari Ini dan Esok

BERSAHABAT dengan mentari, setiap pagi kau lihat senyum nan ramah bersama hangatnya. Warna…