Oleh : Vera Verawati
KONFERENSI Umum UNESCO pada tahun 1966 menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Literasi Internasional (Internasional Literaci Day)

Kali ini mengangkat tema “Literacy Teaching and Learning in the Covid-19 Crisis and Beyond”. Tujuan dibentukanya Hari Aksara Internasional sebagai bentuk apresiasi kepada pihak-pihak yang turut berperan dalam menekan angka buta aksara. Indonesia berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2019, jumlah penduduk buta aksara telah mengalami penurunan yang signifikan. Ditahun 2011 sebanyak 4,63% menjadi 1,78% ditahun 2019.

Bagaimana dengan Kuningan, yang bercita-cita mewujudkan sebagai Kabupaten Literasi. Sudah sejauh mana pemerintah menunjukkan kepedulian terhadap Literasi di Kuningan ? 

Mengacu pada tema Kemendikbud “ Pembelajaran Literasi di Masa Pandemi COVID-19, Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan”.  Strategi penuntasan buta aksara dititik beratkan pada daerah 3T (Tertinggal, terdepan, terluar).

Melihat beberapa upaya dalam mengapresiasi para pelaku literasi di Kuningan dapat dilihat dari adanya berbagai perlombaan seperti Pemilihan Duta Baca baik tingkat SD/SMP/SMU maupun UMUM dan pemilihan Keluarga Literasi yang rutin diselenggarakan setiap tahun.

Sosialisasi Forum Taman Bacaan Masyarakat atas inisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan  dan pemanfaatan Perpustakaan Desa yang di prakarsai oleh  Dinas Kearsipan dan Perpustaan Kabupaten Kuningan.

Namun amat disayangkan, tanpa banyak yang tahu bahwa Kuningan memiliki banyak sekali talenta dibidang Literasi, terbukti banyaknya buku-buku yang terlahir dari para penulis yang berasal dari Kuningan. Amat disayangkan ketika Seminar Literasi justru dilakukan diluar daerah Kabupaten Kuningan. Sedangkan Kuningan memiliki banyak orang-orang yang konsisten dalam dunia literasi.

Ada apa dengan fenomena tersebut? Mungkinkah kurangnya upaya dari pemerintah Kabupaten untuk merangkul mereka atau ruang yang disediakan bagi mereka untuk mengapresiasikan karya-karya mereka tidak cukup ?Beberapa orang bahkan sangat konsisten dalam mensosialisasikan budaya membaca sebagai bentuk nyata dalam upaya mengurangi angka buta aksara yang masih ditemukan.

Secara indi dengan menggunakan biaya sendiri ataupun bertukar dengan Taman Bacaan Masyarakat lain. Untuk saling mensuport buku dalam penyediaan bahan bacaan untuk masyaraka sekitar. Untuk penyediaan buku bacaan bagi Perpustakaan Desa (PERPUSDES),  Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kuningan dengan senang hati membantu mensuplai sejumlah buku sebagai penunjang bacaan.

Terutama mereka yang bergerak di wilayah 3 T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Dimasa pandemi ini, daerah-daerah tersebut membutuhkan perhatian khusus. Karena ketertinggalan satu daerah menjadi titik terdepan upaya penanganan lebih serius. Daerah terluar tentu akan membutuhkan sarana dan prasarana untuk menjangkaunya agar upaya penanganan buta aksara segera teratasi.

Harapan besar tentunya untuk Pemerintah Kabupaten Kuningan agar lebih besar lagi memiliki kepedulian terhadap dunia literasi dan para pelakunya. Agar mampu secepatnya mewujudkan cita-cita Kuningan sebagai Kabupaten Literasi.

Mari berdayakan masyarakat lokal yang memiliki talenta-talenta luar biasa dibidang literasi serta berikan penghargaan terbaik tentunya untuk para pelaku yang konsisten mensosialisasikan budaya membaca dalam upaya mengurangi angka buta aksara di Kabupaten tercinta ini. **

(Kuningan, 8 September 2020)

Facebook Comments

Check Also

Menu Hemat Saat Uang Belanja Nyaris Tamat

KARTINI – Tanggal tua biasanya memang isi dompet sudah mulai menipis, apalagi ditamb…