Oleh: Hj. Heni Susilawati

PERAYAAN 75 tahun kemerdekaan RI, bagi saya pribadi sarat dengan pesan-pesan yang mengajak kepada kita semua, untuk berbenah dan berubah. Masalah yang juga dialami oleh banyak negara di dunia, seharusnya membuat renungan kontemplatif kita sampai pada perhatian dampak pandemi covid-19 terhadap perempuan.

Mengapa perempuan? Harus kita akui, kebijakan PSBB membuat ruang gerak perempuan semakin terbatas dan semakin berlipat ganda beban yg dihadapi. Urusan domestik harus selesai, ditambah dengan upaya pendampingan pembelajaran jarak jauh dan tentu bagi single parents juga tantangan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.

Belum lagi persoalan KDRT yang meningkat signifikan menurut ulasan sejumlah media baik leval nasional, provinsi maupun daerah. Bisa jadi fenomena gunung es saja, kejadian yang sesungguhnya lebih banyak lagi.

Policy Brief on The Impact of Covid-19 on Women pada 9 April 2020 yang menyatakan bahwa pandemi Covid-19 memperdalam tekanan ekonomi dan sosial ditambah dengan pembatasan pergerakan dan isolasi sosial, kekerasan berbasis gender meningkat secara eksponensial.

Maka memaknai kemerdekaan di tengah pandemi, seharusnya membuka mata hati kita tentang problem yg dihadapi perempuan. Generasi masa depan, semua bergantung pada peran perempuan. Ini hal mendasar yang sering kita lupakan.

Perspektif yang bias gender sering kali lupa, bahwa kualitas penerus masa depan akan banyak bergantung pada perempuan. Maka tanpa memperhatikan perempuan artinya kita tidak punya kepedulian lahirnya generasi yang sehat fisik dan psikis.

Generasi yang mandiri secara finansial, serta generasi yang kehadirannya dirasakan kebermanfaatannya bagi masyarakat sekitar. Kita masih menghadapi kesenjangan gender, gender gap.

Lihat saja data global gender gap index tahun 2020. Indonesia menempati peringkat ke-85 dari 153 negara dengan skor 0.70. Angka 0.70 itu bermakna, kita baru menyelesaikan ketimpangan gender sebesar 70 persen. Kita tertinggal dari negara tetangga: Filipina (ke-16), Laos (ke-43), Singapura (ke-54) dan Thailand (ke-75).

Ketimpangan gender diukur melalui 4 dimensi: partisipasi dan kesempatan ekonomi, tingkat pendidikan, kesehatan dan harapan hidup, dan pemberdayaan politik.

Perempuan Harus Hadir di Ruang Politik

Gender gap yang kita hadapi, menuntut perempuan hadir di ruang politik. Formulasi dan implementasi regulasi berbagai kebijakan publik akan beda warnanya jika perempuan hadir dan tentu mampu memberikan warna dengan segala kapasitas pribadi yang dimiliki nya.

Problem resesi dengan segala masalah publik dan domestik yang menyertainya harus kita hadapi bersama. Perempuan mesti berada di garda terdepan, tidak hanya untuk urusan lingkup domestik saja, tapi ia harus hadir di ruang-ruang publik.

Kemampuan kaum perempuan bersinergi dengan kaum laki-laki, akan menjadi faktor penentu keberhasilan melewati masa-masa yg tidak mudah di masa pandemi. Harus kita eratkan sinergitas dan kolaborasi mengentaskan banyak persoalan agar negara kita, agar daerah kita MAJU.

Keluar dari lorong kegelapan bernama resesi ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid-19, menuju terang benderang masa depan yg penuh harapan. Menghantarkan anak-anak kita, generasi masa depan. Mewariskan sebuah kekuatan untuk bangkit dan percaya diri menatap hari-hari kedepan yg penuh tantangan.**

Facebook Comments

Check Also

KKI Neduci Cetak Kader Penulis Handal

KARTINI – Banyak cara untuk mengembangkan minat baca dan menulis, salah satunya gebr…