Oleh : Dian Aprianti, S.Pd

GAYA Komunikasi dan Kaum Gender
Komunikasi tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia. Komunikasi merupakan ilmu pengetahuan yang dinamis. Banyak penelitian yang mengkaji kondisi perempuan dalam berkomunikasi.

Dominasi patriarki baik di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya erat kaitannya dengan perempuan. Pada hakekatnya perempuan tidak terlepas dari kodratnya sebagai makhluk yang dapat bereproduksi yang memiliki bentuk tubuh yang berbeda dari laki-laki dan juga tidak menjadi beban bagi laki-laki.

Permasalahan perempuan merupakan hal yang lumrah dan menjadi sebuah keunikan dimana perempuan tidak bebas menyuarakan pendapatnya, perempuan terpaksa harus tutup mulut sehingga tidak mampu apa yang menjadi keinginan yang dapat mewakili dirinya sendiri.

Karena bersifat personal, perempuan seringnya diabaikan dalam segala bidang dan ini berbeda dengan laki-kaki yang memiliki agenda yang cukup besar dan bebas untuk berkomunikasi.

Gaya komunikasi merupakan sebuah wadah untuk memastikan kelancaran dan pengelolaan suatu organisasi tetapi juga pengelolaan yang melibatkan pemerintahan ketika menghadapi publik. Pada dasarnya teori komunikasi feminis lebih menekankan pada hubungan gender dan gaya berkomunikasi.

Judith Butler beranggapan bahwa komunikasi dalam persfektif gender merupakan seseorang yang menampilkan identitas pribadi dalam lingkungan sosial. Teori tersebut menjadi sebuah payung rujukan perilaku seseorang.

Perempuan Mencari Kenyamanan Dalam Berbicara

Judith Butler juga menyatakan dimana komunikasi berjalan di ranah bagaimana seorang individu menunjukkan penolakan, negosiasi dan perubahan identitas dalam lingkungan masyarakat. Perbedaan yang mencolok diantara perempuan dan laki-laki ditunjukkan dengan gaya bicara.

Menjadi hal yang sangat umum ketika posisi laki-laki mendominasi dari perempuan. Laki-laki dianggap lebih penting daripada perempuan, beberapa ahli mengasumsikan, dunia yang berbeda menyebabkan perbedaan persepsi percakapan diantara laki-laki dan perempuan.

Pemahaman dan keterhubungan yang diharapkan oleh perempuan dalam sebuah percakapan yang berbanding terbalik dengan laki-laki yang mengharapkam status dan kebebasan. Kenyamanan berbicara merupakan tujuan utama bagi perempuan sementara laki-laki bercakap-cakap untuk memperlihatkan kehebatan dan kekuasaannya.

Laki-laki cenderung menginginkan lebih banyak otonomi, wanita cenderung menginginkan lebih banyak keterhubungan, meskipun demikian perempuan memiliki cara pandang yang sama dalam hal keterhubungan tersebut.

Posisi perempuan dalam percakapan dengan laki-laki akan berbeda, ketika orang berbicara dari sisi yang berlawanan dari hubungan kekuasaan, perspektif dari kehidupan yang kurang kuat dapat memberikan pandangan yang lebih objektif daripada perspektif dari kehidupan yang lebih kuat. (Griffin, 2006).

Menurut Kramarae yang dikutip dari West and Turner (2007), perempuan mempunyai persepsi yang berbeda dibandingkan dengan laki-laki karena pengalaman yang berbeda dan pembagian pekerjaan yang berbeda; karena dominasi politik persepsi laki-laki pada akhirnya mendominasi dan menghambat ekspresi bebas dari perempuan dalam mengenal dunia.

Untuk dapat berpartisipasi di masyarakat perempuan harus menstransformasi model mereka sendiri sesuai dengan ekspresi laki-laki yang diterima. Beberapa penelitian yang telah dilakukan dengan objek perempuan tidak selalu masuk pada area kritis. Yang terpenting adalah merubah mindset ketidakadilan bagi perempuan.

Sebagai harapan dimana perempuan bangun dari keterpurukan dan memperbaiki kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena sudah saatnya perempuan untuk tidak dipandang sebelah mata seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 28 ‘kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebaigainya ditetapkan dengan undang-undang.’ Dalam pasal 28C ayat (2) yang berisi ‘Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan hakna kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.’

Dengan demikian pasal tersebut menyebutkan tidak hanya untuk kaum laki-laki tetapi untuk seluruh masyarakat yang didalamnya perempuan termasuk yang memiliki hak yang sama dalam memperjuangkan kehidupan dan kariernya seperti dibidang politik, pemerintahan dan sebagainya walaupun hanya menempati sekitar 30% nya saja, yang sudah barang tentu kaum gender tidak akan pernah lupa dengan kodratnya dalam pandangan Islam. ***

Griffin. (2006). First Look at Communication Theory 6th Edition. McGraw Hill. NY, USA

Facebook Comments

Check Also

Akibat Pandemi Covid-19, Kondisi Perekonomian Kuningan Mengalami Tekanan Hebat

KARTINI – Kondisi perekonomian di Kabupaten Kuningan akibat Pandemi Covid-19 mengala…