KARTINI – Terkait pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang sampai saat ini masih menggunakan dalam jaringan (daring), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kuningan meminta saran dan pendapat dari kalangan jurnalis.

Acara yang difasilitasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tersebut berlangsung, Jumat (24/7/2020), di Aula Disdik.

Ketua PWI Kuningan, Iyan Irwandi, sangat mengapresiasi langkah Disdikbud, karena ketika ingin mengeluarkan sebuah kebijakan yang nantinya bisa menimbulkan kontroversi terutama KBM di masa Pandemi Covid-19, meminta saran dan pendapat terlebih dulu dari kalangan wartawan.

Meski memiliki kewenangan tersendiri sesuai dengan tugas, pokok dan fungsi (tupoksi) tetapi dengan adanya langkah tersebut, setidaknya para jurnalis akan ikut mengawal kebijakan pendidikan demi kebaikan bersama karena salah satu fungsi pers adalah ikut mencerdaskan masyarakat melalui pemberitaan-pemberitaan yang mendidik.

Kepala Disdikbud Kabupaten Kuningan, H. Uca Somantri didampingi Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Kemasyarakatan (Dikmas), Elon Carlan, mengatakan, sebagian orangtua siswa mengeluhkan pola pembelajaran daring yang dinilai tidak efektif sekaligus mengakibatkan beberapa persoalan baru.

Diantaranya, anak-anak menjadi malas, sulit diatur, menghabiskan kuota, masih banyak orangtua yang tidak memiliki handphone jenis android, kekuatiran guru yang tidak bisa mencapai target pembelajaran dan sebagainya.

Dukung Belajar Tatap Muka

Selain itu, terjadi perbedaan pelaksanaan KBM di lingkup Disdikbud yang masih mengacu pada pendidikan jarak jauh atau daring dengan sekolah-sekolah lingkup Kementrian Agama (Kemenag) yang telah menerapkan pola pembelajaran tatap muka sehingga menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan masyarakat.

Sementara itu, pemerintah pusat menerbitkan Surat Kesepakatan Bersama (SKB) empat menteri yang memutuskan supaya pelaksanaan pendidikan di masa Pandami Covid-19 dilakukan secara daring.

“Memang sampai saat ini, sebagian besar proses pembelajaran di sejumlah sekolah masih dilakukan secara daring dan sisanya bervariatif tergantung situasi sehingga untuk mencari solusinya, kami sengaja mengundang para wartawan yang dipasilitasi oleh Pak Ketua PWI untuk sharing dan saran pandangnya,” ujar Uca.

Dalam dialog interaktifnya, ternyata mendukung pelaksanaan sekolah melalui tatap muka dengan mengacu pada protokol kesehatan seperti sekolah menyediakan tempat cuci tangan dan pengukur suhu, mengenakan masker, dibuat shif pembelajaran dan sebagainya.

“Masukan ini akan dipadukan dengan SOP untuk disampaikan kepada Pak Bupati Kuningan agar menjadi kebijakan pendidikan ,” paparnya. (kh)***

Facebook Comments

Check Also

Menu Hemat Saat Uang Belanja Nyaris Tamat

KARTINI – Tanggal tua biasanya memang isi dompet sudah mulai menipis, apalagi ditamb…