DALAM situasi wabah corona, suasana Ramadlan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, biasanya kita beramai-ramai shalat tarawih di masjid, tadarrus di masjid, itikaf di masjid dan sejumlah kegiatan lainnya juga di masjid, sehingga masjid lebih ramai dibanding dengan di luar Ramadlan.


Dalam situasi wabah corona, suasananya berbeda, kegiatan keramaian di masjid ditiadakan, kegiatan ibadah dilakukan di rumah masing-masing. Berdasarkan fatwa MUI No. 14 Tahun 2020 bahwa ” Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian pula tidak boleh menyelenggarakan aktfitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di
masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim”.


Bagi orang yang hatinya sudah kecantol dengan masjid, ini sangat menyedihkan, tapi bagaimana lagi, situasi darurat memaksa kita untuk sementara mengalihkan kegiatan ibadah ke rumah masing-masing, mau tidak mau kita harus ikhlash menerima kenyataan, sebab kenyataan ini juga bagian dari taqdir yang harus kita imani. Fakta di lapangan sebagaimana dituturkan oleh Ketua IDI Kabupaten Kuningan, dr. H.Asep Permana, bahwa “seiring dengan pandemik corona-19 kita telah memiliki 1605 kasus yang lumayan banyak, terbagi di 365 desa dan 15 kelurahan. Kasus ini ada di semua desa dan kelurahan, semuanya kebagian.

Pasien Dalam Pemantauan (PDP) semakin hari semakin meningkat, Orang Dalam Pemantauan (ODP) sudah mulai menurun, akan tetapi sudah mulai terjadi penularan di antara penduduk Kuningan sendiri. Kalau dulu kasus yang dirawat dan kasus positif itu adalah mereka yang datang, artinya kasusnya dibawa dari luar oleh perantau, sekarang ada gejala baru yaitu mereka yang ada di Kuningan terpapar oleh saudaranya yang datang dari rantau”.


Dalam keadaan darurat, ada rukhshah atau dispensasi yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan keadaan. Yuriidullahu bikumul yusro wa laa yuriidu bikumul ‘usro (Allah menghendaki kemudahan
untuk kalian dan tidak menghendaki kesulitan kepada kalian). Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa (Allah tidak membebani seorang hamba kecuali sesuai.
Situasi ini bukan keinginan kita, berat rasanya meninggalkan masjid, tapi masjid adalah milik Allah, corona adalah makhluk Allah, maka kedatangan corona seakan perintah Allah untuk sementara menghindari berjamaah di dalamnya, imam masjidil harom berdoa dalam qunut nazilah yang dibacakannya Allahumma
laa tathrudnaa min baitik 3x
(Ya Allah janganlah Engkau usir kami dari rumah-
Mu), 3x (Ya Allah janganlah Engkau
usir kami dari sisi-Mu).

Hikmah Dibalik Tarawih di Rumah

Karena itu, di balik kita harus melaksanakan shalat tarawih dan ibadah lainnya di rumah saat pandemi, pasti ada rahasia dan hikmah yang terkandung di dalamnya.
Apa saja hikmah di balik shalat tarawih di rumah ?

1. Membersihkan niat segala pekerjaan, termasuk shalat tarawih dan ibadah lainnya, apakah bernilai ibadah kepada Allah atau tidak tergantung niatnya. Innamal a’maalu binniyyaat , demiian sabda Rasulullah Saw. Para ulama membagi niat kepada tiga: linnafsi, linnaasi dan lillah.

a. Niat linnafsi yaitu niat karena ada kepentingan pribadi, ini akan melahirkan riya, ingin dilihat orang lain, dan ini termasuk bagian dari syirik.
b. Niat linnaasi, yaitu niat karena ada kepentingan kepada orang lain, ini akan melahirkan sifat ‘ujub, yaitu berbangga diri, takabbur, sombong. Ini juga termasuk syirik karena kesombongan itu milik Allah Yang Maha Besar.
c. Niat lillahi yaitu niat karena ada kepentingan dengan Allah, apa yang dilakukanya semata untuk Allah, ini akan melahirkan sifat ikhlash dan inilah niat yang akan diterima oleh Allah.
Shalat berjamaah di masjid pahalanya besar, apalagi di masjidil harom, mengapa ? karena potensi gangguan niatnya memang sangat besar.


Saat shalat di masjid, biasanya terasa lebih bersemangat, tapi apakah semangatnya benar-benar karena didorong oleh lillah atau linnas, karena dorongan kepentingan dengan orang lain. Apakah shalat di masjid itu karena malu dilihat Allah jika dilakukannya di rumah ? atau mungkin
karena malu oleh tetangga jika tidak kelihatan di masjid ? Masih banyak kemungkinan-kemungkinan noda negative yang ada dalam hati atau pikiran, sehinga shalat kita di masjid ternoda. Untuk membersihkannya, kita “dipaksa” oleh keadaan darurat virus corona untuk melaksanakan ibadah di rumah saja, dengan demikian kita akan terhindar dari noda dalam niat yang biasa muncul dalam shalat bersama orang lain, lebih dari itu, dengan ibadah di rumah kekuatan niat
lillah kita diuji, apakah berenergi atau tidak, sebab godaan kemalasan ibadah di rumah cukup tinggi, hanya dengan niat lillah energy ibadah akan
muncul.


2. Mengingatkan tanggungjawab kepada keluarga Mungkin selama ini, ada di antara kita yang lalai akan tanggungjawabnya terhadap keluarga, terutama dalam hal spiritual, padahal Allah Swt berfirman “Wahai orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka”, maka ibadah di rumah saja, mengingatkan kita akan tanggungjawab terhadap keselamatan keluarga dari api neraka, dan menjadi moment untuk menata kembali keluarga dari sisi spiritual.

Kuningan, 26 April 2020-04-26

Oleh: Drs.H.D.Syarif Hidayatullah, MA1, Ketua MUI Kuningan.

Facebook Comments

Check Also

Tentang Kemarin, Hari Ini dan Esok

BERSAHABAT dengan mentari, setiap pagi kau lihat senyum nan ramah bersama hangatnya. Warna…