MENJADI Kartini saat ini, tidak sulit. Dengan menjadi seorang yang kompeten, yang dapat bersaing sehat dengan kaum adam, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya, ataupun hukum, dapat disebut Kartini. Karena memang, awal mula perjuangan Raden Ajeng Kartini diantaranya adalah, bagaimana memberdayakan perempuan saat itu yang ritme hidupnya tidak lebih dari sekedar berkecimpung di dapur, sumur, dan kasur.

Dengan kemampuan yang tak kurang dari kaum pria, dapat kita jumpai banyak politisi perempuan saat ini. Banyak pula pengusaha perempuan yang sukses. Menjadi banyak duta atau konsul berbagai program kegiatan sosial dan kebudayaan, bahkan hingga menjadi pimpinan sebuah organisasi, pimpinan daerah bahkan hingga negara. Dari sederet cerita kejayaan ini, yang patut dievaluasi adalah jumlah peran perempuan yang masih jauh dibawah laki-laki.

Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah. Karena peran perempuan untuk dapat diperlakukan secara setara dengan laki-laki sudah banyak difasilitasi (walau belum maksimal). Namun, rupanya kemauan dan itikad perempuan sendiri yang lebih memilih untuk tidak terlibat, cukup tinggi. Padahal, kesempatan yang diberikan masyarakat terhadap perempuan, seharusnya dijadikan kesempatan oleh perempuan sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan dan harapan perempuan yang selanjutnya dapat di muat dalam kebijakan. Cara pandang yang sedikit berbeda ini akhirnya membuat stagnan. Dan akhirnya setiap kebutuhan dan harapan perempuan tidak cukup baik terakomodir.

Contoh kecil yang sedang viral pada tahun 2019 adalah kasus stunting pada balita hingga mencapai 30%. Adapun penyebab anak mengalami stunting adalah karena gizi buruk pada ibu hamil dan bayi. Salah satu faktornya adalah karena minimnya pengetahuan seorang ibu dan kondisi keprihatinan lainya. Artinya, bagaimana sebuah kebijakan dapat berpihak pada kaum perempuan sehingga dapat meminimalkan kasus ini bermula dari bagaimana penentu kebijakan tadi tahu persis keadaan perempuan. Sehingga solusi untuk mencegahnya, dapat pula dibuat sesuai kebutuhan.

Banyak lagi kasus lain yang dapat dikaji sebagai keprihatinan kaum perempuan. KDRT, pelecehan seksual, diskriminasi dalam pekerjaan, dsb. Maka sudah saatnya perempuan bergerak untuk mendapatkan haknya sendiri. Kekuatan emosional yang solid, tentu dapat memecahkan semua masalah yang terjadi.

Lalu, bagaimana jika seorang perempuan lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja? Itu juga patut diapresiasi. Tidak semua perempuan mampu menjadi seorang ibu rumah tangga. Sebagaimana tidak semua orang mampu menjadi wanita karir. Setiap peran memiliki keistimewaan tertentu. Sebagaimana kita berharap para perempuan yang berada pada posisi penentu kebijakan mampu membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak pada perempuan, maka kita pun dapat mengharapkan para ibu rumah tangga ini dapat menjadi teladan yang baik bagi anaknya. Madrasah pertama bagi anak-anak idealnya adalah di rumah. Sehingga kelak mereka akan menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki kejujuran, keuletan, tanggung jawab, dan komitmen yang terbentuk tanpa tendensi apapun. Murni, sebagai ajaran seorang ibu yang penuh rasa kasih dan sayang.

Maka, kartini saat ini adalah menjadi perempuan yang punya kemauan, yang punya keinginan, punya ambisi, dan punya harapan untuk perempuan bangsa ini menjadi lebih maju. ***

By : Mely Pemilya, SS, Guru Madrasah Aliyah Subulul Huda Darma Kuningan

Facebook Comments

Check Also

Menu Hemat Saat Uang Belanja Nyaris Tamat

KARTINI – Tanggal tua biasanya memang isi dompet sudah mulai menipis, apalagi ditamb…