JAMAN telah menuntut mereka menjadi pribadi-pribadi tangguh, pekerja keras, namun juga cerdas berkualitas. Ialah Dina (42th) janda 2 anak  (anak pertama laki-laki umur 17 tahun sedang yang kedua perempuan 11 tahun), bekerja sebagai pelayan disebuah restoran pergi jam 08.00, dan pulang jam 19.00 WIB. Juga, Nina (32th) janda 2 anak, bekerja sebagai pedagang kecil-kecilan. Lalu Tina (25th) janda 1 anak terpaksa berangkat keluar negeri menjadi TKW untuk menghidupi keluarga.

Ternyata banyak perempuan berstatus janda yang dengan kondisi serba sulit namun mereka bekerja jauh lebih baik dari para laki-laki. Pernahkah melihat seorang wanita mengendari mobil besar pengangkut barang dengan beban ratusan ton?, ketika ditanya kenapa dia harus bekerja seberat itu?, jawabannya, “karena saya seorang janda yang harus menafkahi keluarga”.

Begitu miris ketika masih  banyak yang meremehkan status tersebut hanya karena kesalahan segelintir oknum (janda nakal), lantas publik menyamaratakan setiap perempuan yang berstatus janda. Andai publik menyadari bahwa setiap perempuan di dunia yang ketika menikah tidak pernah berkeinginan pernikahan tersebut berakhir. Namun tentu  ada alasan mengapa setiap pernikahan terpaksa diakhiri.

Konflik berkepanjangan yang berujung kekerasan dalam rumah tangga, kesenjangan ekonomi yang berujung pertikaian, dan masih banyak alasan perempuan akhirnya memilih mengakhiri pernikahan. Jodoh, maut dan rizki adalah bagian dari takdir, maka perempuan yang berstatus janda hanya menerima takdir mereka suka atau tidak menyandang status tersebut.

Masih ingatkah bahwa Siti Khadijah, istri nabi Muhammad SAW juga seorang janda. Lalu kenapa masih saja memandang rendah pada mereka, tidakkah mereka jauh lebih kuat dari anda, memiliki dua jabatan sekaligus ibu dan juga ayah untuk anak-anak, mencari nafkah juga mengurus semua kebutuhan rumah tangga termasuk menjaga dan merawat anak-anak.

Ibu (janda) setiap hari bekerja keras dengan waktu yang pasti lebih banyak diluar untuk bekerja ketimbang dirumah menjaga dan mengasuh anak-anak. Karena kebanyakan yang terjadi setelah perceraian, lebih banyak laki-laki yang mengabaikan kewajiban mereka dalam menafkahi anak-anak, dengan alasan ekonomi yang tak cukup untuk menafkahi dua keluarga terutama saat mantan suami (ayah dari anak-anak) telah menikah lagi.

Itu sebabnya Nabi kita Muhammad SAW begitu menghormati  istrinya yang notabene seorang janda saat dinikahi beliau. Lalu bagaiman dengan kita? sudah sebaik apa kita memperlakukan mereka ?. Untuk itu sebagai sesama manusia yang berkedudukan sama dimata Allah SWT mari saling menghormati dan menghargai tanpa pernah memandang rendah pada status apapun.

Karena bisa jadi orang yang kita rendahkan hari ini justru orang yang berkedudukan tinggi dan lebih baik di mata Allah SWT. Perempuan-perempuan (janda) tangguh itu terus berjuang untuk melanjutkan kehidupan keluarganya dengan atau tanpa penghargaan dan penghormatan siapapun. ** (Vera Verawati)

Facebook Comments

Check Also

Tentang Kemarin, Hari Ini dan Esok

BERSAHABAT dengan mentari, setiap pagi kau lihat senyum nan ramah bersama hangatnya. Warna…