KARTINI – Ketika ada warga yang diketahui positif tertular virus berbahaya seperti virus Human Immunodeficiency Virus (HIV), banyak yang memandang sebelah mata, dan tidak sedikit diantara mereka yang dikucilkan dari pergaulan.

Namun tidak bagi Ani Zulaeha (41 tahun), sosok perempuan ini benar-benar peduli, terketuk hatinya dan merangkul mereka (para korban HIV/AIDS) untuk bisa tetap menatap masa depan, dan terus memberi semangat untuk bisa sembuh dari virus yang konon ‘mematikan’ tersebut.

“HIV tidak akan menular hanya dengan bersentuhan, atau minum segelas dengan penderita, sama sekali tidak. Tapi kenapa banyak yang merasa takut, bahkan ketakutan warga itu berlebihan dan mengucilkan mereka. Padahal si penderita HIV di Kuningan ini kebanyakan bukan pelaku utama dari pergaulan seks bebas,” ujar Ani.

Dari situlah, perempuan kelahiran 12 September 1978 ini tergerak hatinya dan membentuk perkumpulan/forum/rumah yang diberi nama Warga Peduli AIDS (WPA) Kabupaten Kuningan. Dari WPA ini, Ani bisa memotivasi para korban HIV/AIDS terutama yang menyerang perempuan dan anak-anak.

WPA sendiri didirikan pada tahun 2017, dan hingga sekarang ada 67 orang yang menjadi asuhan WPA, terdiri dari 19 anak-anak dan 48 ibu-ibu. “Mereka adalah korban dari kenakalan suami/ayah mereka yang melakukan seks bebas. Jadi bukan pelaku utama. Mereka butuh pengakuan, butuh sahabat yang mau mendengarkan dan memotivasi hidup mereka,” papar pegiat sosial ini.

Salah satu kegiatan untuk mempererat keakraban diantara mereka, WPA mengadakan agenda rutin bulanan santunan anak yatim yang terdampak HIV, di Sekretariat WPA Kuningan, Perumahan Bojong Serang Awirarangan. Anak-anak dan perempuan yang terdampak HIV ini dikumpulkan dan diberi tausiyah supaya tetap yakin dan semangat untuk menghadapi hidup, apalagi bagi anak-anak yang masa depannya masih panjang.

Ketika ditanya berapa jumlah warga terkena HIV/AIDS, ternyata Ani sangat miris memperhatikan jumlah warga yang tertular virus ‘ganas’ tersebut. Setiap tahun angkanya selalu naik, dan per tahun 2019 ada sebanyak lebih kurang 440 warga Kuningan yang mengidap HIV maupun AIDS.

Kalau dilihat dari kenaikan angka, ada beberapa faktor penyebabnya. Bisa dari tren pergaulan bebas masyarakat Kuningan semakin mengkhawatirkan. Bisa juga karena terdampak dari satu pelaku/teridap yang menularkan virusnya kepada isteri/suami dan anak yang masih menyusui. “Karena saat menyusui, jika ibunya sudah diketahui terkena HIV, seharusnya tidak boleh menyusui,” tandasnya.

Diakhir perbincangan, Ani meminta supaya Pemkab Kuningan tetap mendukung program WPA tersebut, karena jika tidak ada yang bergerak untuk mendampingi para korban terdampak HIV , maka mereka merasa tetap terkucilkan. WPA pun tetap ingin membantu mensosialisasikan bahaya pergaulaan bebas dan gonta ganti pasangan yang tidak sah karena rentan terdampak oleh virus HIV/AIDS yang ‘mematikan’. (kh

Facebook Comments

Check Also

Dinilai Peduli Terhadap Pekerja Perempuan, Dinkes Dianugerahi Penghargaan

KARTINI – Perempuan bekerja saat ini trennya semakin naik dan lembaga/perusahaan pun…