Oleh : Vera Verawati

Sepagi ini asyik menyapu di halaman, ketika tiba-tiba seorang wanita muda menghampiri “selamat pagi Teh Nia”, sapanya dengan wajah lusuh kuyup bekas air mata. Sedikit kaget, saya menoleh menjawab sapaanya, “pagi juga, eh Mbak Arum, ada yang bisa dibantu?,” tanyaku sambil menoleh benda yang ada dalam genggaman tangannnya, sebuah handphone model lama, sambil terisak dia menyodorkan hp tersebut.

“Teh Nia, saya minta tolong belilah handphone ini, saya butuh uang untuk ongkos anak saya sekolah hari ini,” katanya memelas. Ya Allah iba rasanya hati ini mendengarnya memohon, tapi apa hendak dikata pagi itu kondisi yang dialami Mbak Arum seyogyanya sama yang sedang kualami saat itu,  dengan senyum getir  aku meminta maaf padanya.

“Mbak,  saya benar-benar minta maaf, bukanya saya gak mau nolongin, tapi kondisinya saat ini saya juga sama dengan Mbak Arum, tidak sepeserpun uang saya punya. Tapi kalau beras, saya rasa masih ada. Kalau Mbak Arum mau, saya kasih beras aja yah nanti berasnya bisa dijual dan uangnya bisa dipakai Mbak Arum,” dengan lemah dia menggeleng.

“Terimakasih Teh Nia, kalau beras saya juga ada tapi jika dijual bagaimana untuk makan, itu sebabnya saya menjual handphone tua ini walau saya tahu harganya tak seberapa, asal cukup untuk ongkos sekolah anak saya hari ini saja, saya udah seneng,”.

“Tunggu sebentar, ayo masuk dulu Mbak Arumn-ya, gak baik ngobrol diluar dan gak enak dilihat yang lain,” kataku sambil menarik lenganya dan mengajaknya masuk rumah serta mempersilahkanya duduk.

Tidak lama aku keluar dari dapur dengan membawa beras seberat kurang lebih 3 kg, dan menyerahkan padanya, meski awalnya dia menolak namun aku tetap memaksanya untuk menerimanya. Penuh haru Mbak Arum mengucapkan terimakasih dan berpamitan untuk menjual beras tersebut.

Seperginya Mbak Arum, aku kembali ke dapur menatap kotak penyimpanan beras yang telah kosong sambil berucap dalam hati, “Alhamdulillah, terimakasih ya Allah memberiku kesempatan untuk bersedekah. Aku yakin kau akan segera menggantinya,”. Dengan penuh keyakinan aku menutup kembali kotak penyimpanan beras, dan kembali melanjutkan menyapu halaman yang tadi tertunda.

Selang berapa lama saat aku bersiap untuk pergi bekerja tiba-tiba babeh datang dengan karung berisi beras ditangan, penuh heran aku bertanya, “ada apa beh?,” sambil membuka pintu dan menyilahkan babeh masuk, “Nih beras untuk enok (panggilan kesayangan babeh padaku),” katanya sambil menurunkan beras dari bahunya.

“Kebetulan sawah sudah dipanen, sama pengolahnya baru diantarin tadi. Jadi babeh bagi-bagi buat anak-anak babeh biar nyicipin beras dari sawah sendiri,” ujarnya.

Alhamdulillah, berjuta syukur aku ucap. Janji Allah benar-benar terbukti, ketika ikhlas memberi, maka akan secepatnya terganti berlipat kali, setelah mengucap terimakasih babehpun pulang, kubuka karung yang diantar babeh ternyata beras yang dikasih babeh hampir 10 kg beratnya dan bukan cuman beras saja, tapi juga ada minyak goreng, gula putih, mie dan telur.

Sepenggal kisah, berbagi jangan mengingatnya, jangan mengumbarnya, maka Allah menunjukkan janji-Nya. Hidup terkadang terlihat dan terasa sulit untuk hati-hati yang sempit, serumit itu pola pikirmu serumit itulah hidupmu. Sedang Allah telah memberikan kita kepastian yang pasti, bahwa setiap yang hidup telah dipersiapkan  rizkinya hanya seberapa besar dan berapa banyaknya, tergantung rasa syukur yang kita punya.

Jangan pernah melihat terlalu keatas dengan memaksakan diri mengikuti cara hidup orang lain yang lebih dari kita, tapi menunduklah hidup dengan melihat kehidupan yang lebih berkekurangan dari kita. Jalani saja dan lakukan tugas kita sebagai makhluk yakni berdoa (taat dengan segala perintah-Nya, jauhi larangan-Nya) dan ikhtiar (bekerja keras sebaik-baiknya), tentang hasil percayakan pada Allah saja karena Dialah Dzat sebaik-baik yang Maha Tahu kepantasan kita. ***

Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…