DIBALIK WAJAH IBU

Oleh : Vera Verawati

BEGITU berwarnanya peremuan. Banyak sekali perempuan-perempuan kita yang sehari-harinya bergelut dengan bahaya dan resiko dari pekerjaanya, tanpa pernah mereka mengeluh demi menafkahi keluarga, demi menyelamatkan suami dari tanggung jawabnya mencukupi kebutuhan keluarga.

Yang lebih miris, ketika seorang perempuan/ibu yang bekerja seorang diri (single mother) mengambil alih fungsi semua tugas baik sebagai ibu, sebagai pencari nafkah yang seharusnya menjadi tugas suami tanpa ada bantuan dari siapapun dan dari manapun.

Susi  (41), misalnya, ibu rumah tangga juga berprofesi sebagai ojeg online suaminya Anis Nur Hidayat (45) bekerja sebagi portir di RSUD 45 Kuningan, memiliki 2 putri Natsya (17) dan Nazwa (12). Penghasilan suami yang bekerja sebagai portir tentu tidak mencukupi kebutuhan. Pekerjaan suaminya sebelumnya sebagai teknisi disalah satu perusahaan industri di karawang jelas berbeda jauh, terbiasa dengan penghasilan yang lumayan besar dia merasa kebingungan mengatur keuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan jumlah anggota keluarga 5 orang. 

Dilain kisah, Holipah (42), ibu 3 anak ini bekerja sampingan sebagai pembuat kue yang dititipkan diwarung-warung, suaminya   yang bekerja sebagai supir taksi di ibu kota dengan penghasilan pas-pasan tidak lagi mencukupi kebutuhan seluruh keluarga, terutama pendidikan anak-anaknya. Anak pertamanya baru saja memasuki bangku kuliah, sedang yang kedua masih duduk dikelas 12 Pondok Pesantren, dan yang ketiga kelas 4 SD bisa diperkirakan berapa biaya yang dibutuhkan untuk mencukupi semuanya.

Perempuan kita saat ini tidak saja bertugas dan bertanggung jawab atas putra putrinya, mengerjakan pekerjaan rumah tapi juga mengambil alih sebagian tugas suami yakni mencari nafkah, profesi/pekerjaan apapun tidak lagi menjadi pmbatas bagi perempuan. Dikehidupan sehari-hari kita bisa menemukan tukang ojeg perempuan, tukang sapu jalanan perempuan, supir perempuan, polisi perempuan hingga pilot perempuan bahkan tehnisi yang tugasnya mengotak-ngatik mesin baik ringan maupun berat juga bisa dilakukan perempuan.

Sudah sejauh mana penghargaan kita terhadap perempuan, yang paling sederhana saja, sudahkah kita bertanya pada ibu kita, “apa kabar ibu hari ini?” atau “apa kabar istriku hari ini?”. Hal-hal kecil seperti itu berarti besar bagi mereka, perhatian lebih dari segalanya, bukan hadiah atau kado dihari ibu saja yang diharapkan, tapi disetiap saat menjadikan hari-hari itu sebagai momen terbaik bersama perempuan terkasih (ibu, istri).

Tidak ada yang bisa menjadi penyetara kebaikan seorang perempuan, kodratnya sebagai ibu tidak saja harus mengandung dan melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa dan sakit yang tiada banding kesakitannya. Dilain sisi saat kondisi menuntut dia juga terjun sebagai pencari nafkah.

Namun sebesar apapun berharganya perempuan masih saja kita menemukan banyak sekali ketidakadilan dilakukan terhadap perempuan. Meningkatnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual, dan diskriminasi dalam pengambilan keputusan dan lain-lain.

Untuk para perempuan dimanapun berada, berbanggalah menjadi dirimu, dengan segala keistimewaan yang diberikan Allah SWT dibalik kelemah lembutanmu, kita adalah kekuatan terbesar suatu zaman.  Edukasi diri sendiri dengan terus membuka diri atas setiap informasi yang ada namun bijak dalam memilah. Jadilah figur yang baik untuk putra putri kita, tanpa pernah mereka merasa malu apapun dan siapapun kita adanya. ***

Facebook Comments

Check Also

Naiklah Tinggi Tanpa Menjatuhkan…….

“Naiklah tinggi tanpa menjatuhkan teman mu, bahagialah tanpa menyakiti teman mu̶…