Oleh : Nengani Sholihah (Pegiat Literasi)

BERBAGAI persolan dihadapi oleh umat dalam mengarungi kehidupan. Tak terkecuali persoalan itu dihadapi oleh kaum perempuan. Maka wajar jika tidak akan habis kata dalam membicarakan masalah perempuan. Terlebih lagi kehidupan saat ini berada dibawah kekuasaan demokrasi kapitalisme. Sebuah sistem yang dihasilkan dari pemikiran manusia yang memiliki kekurangan, keterbatasan, dan kelemahan.

Pemikiran barat yang telah meracuni masyarakat menyebabkan keadaan perempuan lari dari fitrahnya. Berbagai propaganda yang digaungkan oleh kaum feminisme tidak ada hentinya. Banyak ide yang dikemas cantik seolah-olah benar adanya.

Child free misalnya, yaitu salah satu propaganda yang dikemas cantik agar generasi milenial enggan memiliki anak setelah menikah nanti. Hal ini tentunya akan mempengaruhi populasi generasi yang akan datang. Ini adalah sebuah ide yang menyesatkan kaum perempuan. Karena pada hakikatnya ide ini  akan menggeser fitrah perempuan. Yaitu menjadi seorang ibu dengan nasab yang jelas bagi anak-anaknya.

Dalam kehidupannya, perempuan telah dikaruniai peran penting yaitu mengandung, melahirkan, menyusui hingga mengasuh anak-anaknya. Maka ide child free akan menentang fitrah perempuan yang sudah diberikan oleh Maha Pencipta, Allah Swt.

Sehingga wajar jika dalam dunia demokrasi kapitalisme –yang berasaskan pada pemahaman pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) yang melahirkan paham kebebasan (liberalisme) dan paham hedonisme– menganggap bahwa peran penting bagi perempuan diartikan sebagai hak asasi manusia bukanlah sebuah fitrah yang harus disyukuri. Akhirnya wajar jika kaum perempuan pemuja feminisme memaknai bahwa reproduksi yang ada dalam dirinya adalah hak yang bisa dibuang kapan saja tanpa melihat dampak yang akan ditimbulkan.

Dunia demokrasi kapitalis memandang bahwa perempuan itu diibaratkan barang yang memiliki nilai keuntungan. Maka banyak sekali eksploitasi perempuan dalam memamerkan bentuk tubuh, warna kulit, rambut, sampai bentuk wajah. Semuanya dijadikan ajang mencari keuntungan.

Tidak hanya dalam reproduksi, persoalan perempuan pun merambah kepada kesetaraan gender. Perempuan dalam demokrasi kapitalisme ingin disetarakan dengan laki-laki.

Kaum feminisme meyakini bahwa permasalahan yang dihadapi oleh perempuan adalah akibat dari dominasi peran laki-laki dalam kehidupan. Terutama dalam sektor publik. Banyak kaum laki-laki yang memimpin yang akhirnya tidak memihak terhadap kaum perempuan.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh para penguasa membuat perjuangan kaum feminisme untuk duduk sejajar dalam dunia pemerintahan menjadi sebuah keharusan. Kuota 30% dalam parlementer harus dipenuhi, bagaimana pun caranya, agar mereka bisa memperjuangkan kebijakan yang lahir dari gedung dewan  berpihak pada kaum perempuan.

Seperti yang dilansir oleh media kartinikuningan.net pada 14 September 2021, bahwa salah satu tujuan dari 17 tujuan yang tertuang dalam SDGs yang telah disepakati oleh Indonesia adalah kesetaraan gender. Saat ini kondisi keterwakilan perempuan khususnya di Kabupaten Kuningan mencapai angka 22,0% dari 30% pencapaian yang harus dipenuhi. Artinya ada 11 orang perempuan yang mewakili masyarakat Kuningan yang duduk di kursi DPRD Kabupaten Kuningan.

Paradigma kesetaraan gender membuat masyarakat memahami bahwa perempuan harus setara dengan laki-laki. Hal inilah yang membuat sedikit demi sedikit tergesernya fitrah perempuan dalam kehidupan. Jauh sebelum ada ide kesetaraan gender, Islam lebih dulu memandang bahwa perempuan dan laki-laki sama. Yaitu sebagai umat yang satu dengan peran penting yang dimiliki masing-masing.

Kedangkalan Pemahaman Syariat

Pemahaman akan syariat Islam yang dangkal membuat feminisme menganggap bahwa aturan-aturan yang menjadi pranata sosial di masyarakat dianggapnya sebagai penghambat dalam meraih kesetaraan dan kebebasan.

Islam dianggapnya sebagai pihak yang paling dominan dalam mewarnai kehidupan yang berlaku di masyarakat. Stigma bahwa Islam mengekang kebebasan perempuan, tidak menghargai kedudukan perempuan, tidak adanya keadilan bagi perempuan, perempuan selalu di nomor duakan, dan banyaknya kasus penindasan atas perempuan telah merambah di negeri-negeri muslim. Akhirnya agama Islam sering dituding sebagai agama yang menghancurkan perempuan.

Stigma tersebut dipercayai oleh sebagian muslim, bahkan ada juga yang menjadi bagian dari penyebaran pemikiran sesat tersebut.

Tidak sedikit dari kaum muslim ikut serta dalam menyebarkan dan memperjuangkan ide-ide feminisme yang dianggap mampu menyelamatkan perempuan.

Mereka tidak menyadari bahwa ide kesetaraan gender sampai emansipasi wanita merupakan ide yang merusak perempuan dalam menjalani kehidupannya. Menjadikan perempuan kehilangan fitrahnya dan peran yang penting dalam kehidupannya pun hilang begitu saja.

Islam Memuliakan Perempuan

Peran perempuan dalam kehidupan yang menjadi ibu dan manager dalam rumah tangga merupakan tugas pokok yang dimuliakan oleh Islam. Peran penting ini telah dilakukan oleh perempuan secara optimal di masa peradaban Islam yang menghasilkan peradaban gemilang.

Dari ibu lahirlah para ulama terkemuka, negarawan, ahli militer, cendikiawan, politikus, ahli kesehatan, dan tokoh lainnya yang memiliki peran penting dan bermanfaat bagi kehidupan umat. Semua itu karena peran perempuan yang mengoptimalkan fitrahnya sesuai dengan aturan Islam.

Tidak hanya itu, Islam pun menjamin hak-hak perempuan yang wajib dilindungi di semua aspek kehidupannya, mulia dari aspek pendidikan, kesehatan, keamanan sampai kepada ikut serta dalam berpolitik. Islam juga memandang bahwa laki-laki dan perempuan adalah satu. Yaitu sebagai umat yang satu yang mendapatkan perlindungan dan pengurusan dari negara.

Semua itu dijamin dan diatur dalam Islam secara terperinci.

Pertama, dalam dunia pendidikan yang merupakan hak bagi setiap manusia.  Pandangan Islam ketika seseorang keluar rumah dalam rangka mencari ilmu adalah sebuah perkara yang mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. Karena keberadaannya fiisabilillah.
Sebagaimana hadist dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali.”

Kedua, dalam jaminan kehormatan perempuan. Islam mengatur agar menutup auratnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki kecuali muka dan telapak tangan. Peraturan menggunakan jilbab yang longgar dan kerudung yang menutupi dada.
Tidak hanya menutupi auratnya, Islam pun menjaga kehormatan perempuan dengan menjaga pandangan, tidak bertabaruj, dilarang berkhalwat, sampai melarang bepergian lebih dari satu hari tanpa ditemani oleh mahram.

Ketiga, perempuan akan mendapatkan jaminan dalam kesejahteraan dan memperoleh keturunan yang sah  Fungsi utama dari seorang perempuan yaitu sebagai ummu warabatul baity. Tempat madrasatul ula’ bagi anak-anaknya tentunya dengan jaminan atas keturunan yang sah. Yaitu dengan pernikahan. Dalam hal mendidik anak, ibu membutuhkan banyak waktu sehingga Islam tidak membebani dalam mencari nafkah kepada perempuan.

Lantas darimana ia akan menghidupi kehidupannya?

Syariat Islam mewajibkan memenuhi kebutuhan hidup kepada suami. Maka kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jika perempuan kedudukannya sebagai single parent, maka kewajiban walinya dan saudara laki-lakinya yang memberikan nafkah. Jika tidak ada yang mampu maka negara-lah yang berkewajiban untuk memenuhi kebutuhannya.

Dengan tidak dibebani dalam pemenuhan kebutuhan hidup maka perempuan (ibu) akan lebih fokus dalam mengasuh dan mendidik generasi. Jika pun ia bekerja, semata-mata bukan untuk menafkahi dirinya maupun keluarganya. Namun untuk kemaslahatan umat.

Keempat, Islam mengatur jaminan perempuan untuk berkiprah dalam politik. Islam mewajibkan seluruh umat untuk melakukan amar makruf nahi mungkar sebagaimana Allah Swt berfirman dalam Q.S At Taubah ayat 71
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Tidak hanya itu, kiprah perempuan dalam dunia politik pun ditunjukkan dalam hak perempuan untuk memilih atau dipilih menjadi anggota majelis umat, serta menjadi bagian dari partai politik Islam.

Seluruh aktivitas politik perempuan bertujuan untuk kemaslahatan umat bukanlah untuk memperjuangkan kesetaraan gender yang digaungkan oleh kaum feminis.

Keenam, Islam tidak membiarkan negara angkat tangan dalam penjagaan. Adapun penjagaan negara terhadap perempuan adalah dengan menjaga ketaqwaan individu yang merupakan benteng pertama. Islam akan menjamin adanya kontrol dari masyarakat agar pelanggaran terhadap hukum syariat dapat terhindarkan. Negara pun akan mengontrol media agar penggunaan media dapat menciptakan suasana keimanan.

Seperti itulah Islam memuliakan perempuan. Penderitaan kaum perempuan hari ini dan rusaknya generasi adalah buah dari diterapkannya sistem kufur demokrasi kapitalisme yang berasaskan sekularisme.

Maka sudah saatnya untuk mengganti sistem kufur ini dengan sistem yang shohih. Yaitu sistem Islam agar kemuliaan perempuan terjaga.

Wallahu’alam bishshowaab. **

Facebook Comments

Check Also

80 Persen Kematian Akibat Serangan Jantung Ternyata Dapat Dihindari

KARTINI –  Jantung merupakan salah satu organ yang harus dijaga kesehatannya, a…