Oleh : Citra Salsabila (Penggiat Literasi)

ABAD ini memang telah mengubah tatanan dunia. Baik dari sisi pertumbuhan ekonomi untuk skala negara hingga pergaulan untuk skala generasi (baca: remaja). Dukungan revolusi industri sangat terasa di berbagai elemen, terutama di tengah pandemi seperti ini. Semua orang membutuhkan internet untuk melancarkan kegiatannya.

Hanya saja, penggunaan teknologi ini perlu diawasi oleh orangtua terutama untuk anak-anak dan remaja. Pasalnya, konten yang dilihat harus selalu diawasi. Sebab, internet menyediakan berbagai informasi yang baik ataupun buruk. Selain itu, orangtua pun harus mengawasi pergaulan anaknya demi menjaga harga kewibawaan dan kemuliaannya.

Seperti yang terjadi di daerah Purwawinangun, Kuningan Jawa Barat, dimana ada sepasang kekasih yang berduaan di tempat kos-an. Diketahui inisialnya IK dan SI, mereka ternyata masih sekolah. Keduanya digrebek oleh Satpol PP Kuningan saat sedang makan. Menurutnya, mereka membayar Rp20.000 untuk sewa per jam-nya. Harga yang relatif mahal bagi seorang pelajar, namun akan melakukan apapun asalkan dapat berduaan dengan sang kekasih (Tribunjabar.id, 08/08/2021).

Ada dugaan kuat bahwasannya kos-an tersebut milik anggota DPRD. Semenjak ada kos-an, warga merasa resah karena sering ramai, ditambah yang kos di sana banyaknya usia yang tanggung. Maka, warga melaporkan ke RT setempat, dan melakukan penggrebegkan secara langsung. Agar tidak terjadi perselisihan, maka Endun selaku RT menghubungi petugas Satpol PP Kuningan.

Itulah salah satu fakta potret generasi saat ini. Pergaulan yang kebablasan menyebabkan mereka bertindak sesuka hati, tanpa berpikir dampak apa yang akan diterimanya. Mereka melakukan atas dasar ide kebebasan berperilaku yang bercokol di negeri ini. Ide ini berasal dari sistem demokrasi.

Memang apa hubungannya? Tentu ada, sebab permasalahannya terletak dari sistem pendidikan yang berlaku. Dimana pendidikan saat ini takkan lepas dari pendidikan yang liberal. Nah, liberal inilah yang merupakan turunan dari sistem demokrasi. 

Pendidikan liberal tentu akan melahirkan generasi yang memiliki pemikiran serba bebas. Bebas melakukan hal apapun selama tidak merugikan orang lain atau tidak merampas hak orang lain. Selain itu, baik buruk perilakunya hanya diserahkan pada akal manusia. Tidak mungkin menjadikan agama sebagai patokan. Walaupun dia seorang muslim.

Tentu ini sangat membahayakan. Selain menjauhkan anak-anak dari agama, juga membuat mereka tak terkendali. Mereka akan sulit membedakan mana yang benar dan salah. Bahkan akan cenderung mengikuti hawa nafsunya. Maka, tak heran jika pergaulan generasi saat ini sudah kacau tak karuan. Tak memiliki rasa malu, bahkan tak memiliki adab.

Pergaulan dalam Islam

Fakta di atas hanyalah secuil kisah generasi abad ini. Tentu masih banyak perkara lain yang menghantui perilaku mereka, sperti narkoba, miras, kecanduan games, dan sebagainya. Lantas apa solusi terbaiknya? Cukupkah hanya dengan dinasihati saja? Tentu tidak. Perlu tindakan tegas dalam menyikapinya.

Islam memandang bahwasannya Negara akan menjamim pendidikan yang berbasis akidah. Baik di sekolah maupun di rumah. Setelah itu, mereka akan dibekali ilmu fikih pergaulan, mulai dari berpakaian, pemisahan kehidupan laki-laki dan perempuan hingga fikih rumah tangga.

Maka saat usia baligh, mereka sudah siap melaksanakan hukum syariat. Artinya, mereka senantiasa berpijak pada aturan Allah Swt. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS Al-Isra: 32)

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwasannya perbuatan yang mendekati zina adalah tindakan berdosa. Sehingga, sudah selayaknya Negara dan orang tua bekerja sama dalam mendidik anak. Ada beberapa tips yang dapat dilakukan, yaitu:

_Pertama_, memberikan penjelasan bahwasannya menyukai lawan jenis adalah fitrah manusia. Itu dibolehkan dalam Islam. Namun, untuk menyalurkan bukan dengan cara ‘berpacaran atau berduaan’, tetapi harus dalam bingkai pernikahan.

_Kedua_, orang tua harus bertindak tegas terhadap tontonan anak. Sebab, tontonan saat ini banyak sekali yang membangkitkan hawa nafsu.

_Ketiga_, saatnya orang tua memberikan teladan terbaik bagi anaknya. Tidak ada anak solehah, jika orang tuanya belum mau berusaha belajar menjadi solehah. Sebab, anak akan selalu mencontoh apapun yang dilakukan kedua orang tuanya.

_Keempat_, semenjak usia tujuh tahun, sudah diajarkan untuk tidur sendiri. Artinya, tempat tidur orang tua dan anak terpisah. Selain itu, tempat tidur anak laki-laki dengan perempuan pun harus terpisah.

_Kelima_, dari kecil dibiasakan menutup aurat baik anak laki-laki maupun perempuan. Misalkan, mengenakan pakaian yang tertutup, mengenalkan batasan aurat laki-laki maupun aurat perempuan, mengenalkan siapa mahram-nya, dan sebagainya.

_Keenam_, mengalihkan kegiatan anak ke ranah yang positif. Misalkan mempersiapkan program-program untuk melejitkan potensi seperti membaca buku atau menghafal Al-Qur’an. Bisa juga bertamasya sambil mengagungkan Allah yang telah menciptakan alam ini dapat menjadi sarana menanamkan keimanan kepada anak.

Itulah beberapa usaha yang dapat dilakukan orang tua. Semuanya bertujuan mengoptimalkan pola pikir dan pola sikap sesuai syariat Allah Swt. Dan yang terpenting tentu akidah Islam harus menjadi pondasi utama dalam membangun pergaulan anak. **

Wallahu’alam bishshawab

Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…