ANGIN berhembus diam-diam. Tak ingin mengusik dedaun kering yang rapuh. Gedung-gedung bisu. Wanita mulia menukar hidupnya dengan Surga. Ketika tiada kekhawatiran barang secuil di hati. Akan dunia dan isinya, fana.

Pintu dan jendela megah ini hanya tempat udara singgah, bukan rumah sedepa tempat belulang terbaring dalam pertanggungjawaban akan tetes peluhnya. Hitam adalah hitam dan putih tetap akan menjadi putih. Dia tak pernah mencampur warna.

Lelaki itu mengantar berlian diatas sorban. Tetua bijak bilang. “Kau bodoh.” Kemudian kembali dengan sebongkah berlian yang sama. Sebuah pertanyaan diajukan.“Kau suka atau kau ingin punya?” dan jawaban menyelamatkannya dari kebodohan kedua kali.

Kini, pintu dan jendela itu makin banyak, setelah dia menerima transaksi penuh cinta dan keikhlasan tertulis di waktu. Tak terhitung ribuan mulut yang menguntai doa-doa untuk sebuah transaksi surga.

Sedang wajah-wajah berjelaga sibuk memasang topeng malaikat. Mengenakan busana putih simbol kesucian. Sedang hati dan mata mereka menelanjangi yang tak telanjang. Pada perjalanan kita mengenal landai dan mendaki.

Masihkah takut bertransaksi, ketika keyakinan tiba di ujung persimpangan. Dan memilih jalan tengah upaya menyelamatkan. Bukan kiri atau kanan yang jelas memiliki tujuan. Ah manusia, bahkan pada DIA pun masih terdapat keraguan.

Bukan kitab yang menghakimi. Tapi wahyu-Nya bukan tinta pada pena yang bisa dihapus jika salah, lalu ditulis ulang untk sebuah perbaikan. Jika Surga adalah tujuan. Maka bertransaksilah tanpa keraguan.

Hiasi dengan hijab terindah. Dandani dengan busana kesalihan. Bebaskan dari kefakiran. Dengan saling menjaga pandangan. Jika hak adalah hak tak akan tertukar dengan bathil. **

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…