Oleh : Nengani Sholihah (Penggiat Literasi)

MASIH santer terdengar tentang penangkapan seorang publik figur bersama suami dan supirnya karena diduga memakai narkoba. Publik telah dikagetkan dengan kejadian ini. Pasalnya mereka bukanlah dari keluarga yang biasa-biasa saja. Kemewahan harta yang dimilikinya, tidak diragukan lagi.

Namun dengan berbagai kejadian yang pernah terjadi dalam penegakkan hukum, publik merasa ragu akan ketegasan aparat terhadap pengguna narkoba dari kalangan orang kaya.

Akan tetapi, Kapolres Jakarta Pusat Kombes Hengki Haryadi dalam konferensi pers yang dilakukan di Mapolres Jakarta Pusat pada Sabtu, 10 Juli 2021 mengatakan bahwa seandainya rehabilitasi sebagaimana diwajibkan dalam Pasal 54 Undang-Undang No 35 Tahun 2009, bukan berarti berkas tidak dilanjutkan, tetapi akan terus dilanjutkan.

Kapolres menegaskan bahwa  ini adalah sebuah penekanan agar isu yang beredar tidak simpang siur dan disinformasi. Tidak hanya itu Kapolres pun mengatakan akan melakukan penyidikan secara profesional (Kompas.com, 10/7/2021).

Wajar jika publik memiliki keraguan dalam penegakkan hukum bagi si kaya. Dalam kenyataannya jelas sangat terlihat penegakkan hukum begitu tumpul ke atas namun begitu tajam ke bawah.

Sebut saja kasus Jaksa Pinangkit yang ternyata hukumannya dipotong dari 10 tahun penjara menjadi 4 tahun penjara. Dengan alasan Jaksa Pinangkit telah mengakui kesalahannya dan meminta maaf serta ikhlas jika dicopot dari jabatannya. Kemudian hakim pun melihat bahwa Jaksa Pinagkit adalah seorang perempuan yang harus mendapatkan perhatian, perlindungan dan perlakuan adil. Hal ini berdasarkan Keputusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Kasus Jaksa Pinangkit adalah korupsi atas fatwa bebas Djoko Candra (Tempo.co, 9/7/2021).

Berbanding terbalik dengan kasus yang terjadi pada Mbok Minah di tahun 2009. Mbok Minah, hanya memetik buah kakao milik perusahaan yang ada di dekat ladangnya. Buah kakao diletakkan Mbok Minah di bawah pohon. Aksi mbok Minah diketahui oleh mandor perkebunan dan berujung pada pelaporan.

Meskipun kakao yang seharga 30 ribu tidak diambil dan Mbok Minah meminta maaf atas perbuatannya yang salah. Namun Mbok Minah divonis hukuman penjara 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Majelis hakim memutus Mbok Minah bersalah melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian (Liputan6.com, 1/3/2019).

Padahal jika dilihat faktanya, kakao yang dipetik tidak diambil dan Mbok Minah sudah meminta maaf. Mbok Minah adalah seorang nenek yang bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Meskipun segala kebutuhan Mbok Minah dipenuhi oleh anak-anaknya, namun Mbok Minah tidak ingin diam saja, tapi Mbok Minah tetap di hukum. Maka menjadi wajar jika masyarakat menyimpulkan sendiri bahwa hukum saat ini begitu tumpul ke atas namun begitu tajam ke bawah.

Sudah Lunturkah Kepercayaan Masyarakat?

Dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam konsistensi penegakkan hukum, masyarakat akhirnya tidak memiliki kepercayaan lagi terhadap penegakkan hukum dalam negara yang mengadopsi sistem demokrasi kapitalisme. Sementara konsistensi penegakkan hukum adalah kunci tegaknya keadilan. Akhirnya, masyarakat memutuskan untuk main hakim sendiri meskipun hal itu bukanlah tindakan yang dibenarkan.

Dalam Islam pengadilan hanya mengambil hukum syariah sebagai penentu keputusan yang akan divoniskan. Hal ini adalah kunci utama, agar keadilan yang dicita-citakan bisa terwujud ditengah-tengah masyarakat. Hukum Allah-lah yang hanya diambil, bukan hukum buatan manusia seperti dalam demokrasi kapitalisme.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S Al-Maidah ayat 50.
Artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki. (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Hukum Islam tidak memandang status sosial, jabatan  ataupun harta kekayaan yang dimiliki. Baik dari kalangan muslim atau non muslim akan diberikan keadilan. Sebagaimana sebuah peristiwa yang dialami oleh  Ali bin Abi Thalib pada saat itu kedudukannya adalah seorang Khalifah. Khalifah Ali mengadukan ke pengadilan atas seorang Yahudi dalam kepemilikan baju besi.
Hakim Syuraih bin Al-Harist Al-Kindi yang berani dan tegas dalam menegakkan hukum telah memberikan putusan bahwa baju besi yang diklaim oleh Khalifah Ali adalah milik Yahudi.

Dalam pengadilan yang disidangkan saat itu, hakim Syuraih meminta Khalifah Ali menghadirkan dua saksi atas baju besi tersebut. Namun saksi yang kedua, yaitu Hasan tidak dapat diterima kesaksiannya karena merupakan anak kandung dari Khalifah. Sedangkan sudah menjadi peraturan dalam Islam bahwa anak kandung tidak bisa dijadikan sebagai saksi dalam pengadilan.

Keadilan dalam sebuah negara adalah barometer untuk mengukur dukungan dan simpati dari masyarakat terhadap penguasa. Keadilan yang ditunjukkan pun adalah untuk menggapai rida dari Allah Swt. Maka jelas bahwa keadilan merupakan keberhasilan seorang pemimpin dalam menjalankan fungsinya, yaitu mengarahkan dan menjaga rakyat agar tetap berada dalam koridor keadilan, keseimbangan, dan kesejahteraan, baik di dunia juga akhirat.

Patutlah direnungkan oleh semua masyarakat terutama pemimpin dan penegak hukum akan firman Allah Swt dalam Q.S An-Nisa ayat 58.
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Maka dalam mencari keadilan tidak bisa ditemukan pada sistem demokrasi kapitalisme. Karena berbagai fakta telah mengatakan bahwa penegakkan hukum dalam sistem ini bak pisau. Hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas.
Keadilan hanya bisa didapatkan pada sistem Islam. Karena hanya hukum yang berasal dari Maha Mengatur-lah yang diambil dalam penegakkan hukum. Maka kembali kepada hukum Allah Swt adalah jalan yang tepat untuk mencari keadilan.

Wallahu’alam bishshawaab. **

Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…