DATA mencengangkan di dapat dari Riset Kesehatan Dasar(Riskesdas) 2018 telah mencatat prevalensi stunting di Indonesia berada di angka 30,8 persen. Dibanding catatan Riskesdas 2013, angka ini terbilang menurun dari 37,2 persen. Angka ini terus turun hingga di tahun 2019 terdata sebanyak 27,6 persen saja.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan lebih rendah atau pendek (kerdil dari standar usianya). Stunting bisa meningkatkan risiko hipertensi, perlemakan hati juga obesitas.

Hari Keluarga Nasional ke-28 tahun ini menjadikan tugas yang sangat berat. Dengan pandemi yang jumlahnya meningkat juga menyerang tidak hanya dewasa bahkan anak-anak. Angka stunting yang telah menurun di tahun 2019 diperkirakan melonjak pada saat pandemi yang hampir memasuki tahun ke dua belum juga usai.

Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang stunting itu sendiri menjadi salah satu faktor keterlambatan dalam mengenali anak yang tergolong pada stunting. Sepertinya ini akan menjadi tambahan tugas baik Dinas Kesehatan maupun BKKBN dalam mensosialisasikan pemahaman stunting di masyarakat.

Tentu kerjasama semua pihak akan dibutuhkan untuk memenuhi pencapaian dalam mensosialisakan bagaimana mengenali gejala awal terjadinya stunting pada anak-anak. Karena jika lebih awal kita mengetahuinya akan bepeluang besar untuk bisa menyelamatkan dari dampak lebih buruk.

Peran keluarga menjadi awal mencegah terjadinya stunting. Dengan memenuhi kecukupan gizi keluarga. Jika kondisi yang tidak memungkinkan dalam mencukupi pemenuhan gizi tersebut bisa menginformasikan ke pihak-pihak terkait dalam mengatasi permasalahan sosial ini. Mari kita selamatkan generasi kita dengan memenuhi kecukupan gizi mereka yang menjadi awal terbentuknya tumbuh kembang anak. (Vera)**

Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…