Oleh : Vee

SINGGASANA hampa, ratu sedang jatuh hati pada dirinya sendiri. Bercengkrama dengan para dayang bercerita  tentang bunga-bunga yang tumbuh di taman. Sendiri sang raja menjelajah. Gagah rupa dan karismatik. Tutur halus, santun budi pekerti.

Sewarga loka negeri nan indah, damai serta teduh oleh rimbun dedaun dan luluh oleh senyum tulus. Wanita bersahaja pengelana yang kehabisan bekal diperjalanan. Duduk sendiri dibawah pohoan oak raya oleh warna-warni dahan kering.

Negeri semusim orang memanggil. Elok ramah penghuninya. Padi-padian tumbuh subur. Aneka sayur berwarna-warni bagai pelangi nutrisi. Perjalan mempertemukan keduanya pada satu persinggahan.

Ditepi danau suara gemericik air mengalir menghanyutkan pandangan Raja pada wanita bersahaja yang sedang istirahat, membiarkan gembalanya meneguk lesap menghapus keringnya harapan yang tercekat  di tenggorokan.

Senyum teduh itu, mata bening sembunyikan lara mendera. Raja terpesona oleh kesehajaannya. Waktu membawa mereka pada romansa cinta bak rama dan sinta,entah iba atau benar-benar cinta.

Rajapun meminang dengan seikat anggrek hutan dan janji setia.
Waktu menguji kesetiaan, masa menjajal ketulusan. Sang ratu masih duduk manis di singgasana mendampingi raja nan elok rupa. Lalu bagaimana dengan wanita bersahaja itu. Takdir mencatatnya sebagai selir terakhir.

Berdalih pada sabda sang raja, dalam diam dan senyum yang selalu terukir. Selir terakhir bergelut pada dilema. Bersama mencinta dibalik kabut kaburkan kenyataan. Atau mundur kemudian hancur lebur dan kembali bersusah payah bangkit berdiri menghitung langkah.

Kehilangan adalah lencana kebesaran. Mahkotanya hanya serbuk putik bunga yang tertiup angin kemudian menguap menjadi embun di ujung daun. Tinggal rajutan kenangan yang disulam oleh sayang yang dalam menjiwa meraga pada sukma kian lara.

Wahai sang raja jika singgasanamu hanya ada satu kursi disampingmu, lalu akan di letakkan dimana wanita bersahaja itu. Sedang ratu nan anggun penuh kebanggaan pamerkan noktah dengan sejuta titah tak terbantah. Aku adalah sah, sedang kau ???

Selir terakhir terus saja berjalan. Wajahnya tetap tengadah penuh keberanian. Saat menyadari panah dewi amor telah menancap di jantungnya. Ia telah bersiap untuk hancur kesekian kalinya. Tanpa pembelaan siapapun selain uluran tangan Tuhan.**

Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…