KARTINI – Sosialisasi berkesinambungan, harus menjadi prototife pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten Kuningan. Jangan hanya sosialisasi tapi tidak ada tindaklanjut ke depannya.

“Perlu pembinaan supaya hasil sosialisasi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas. Jargon “ceblur” harus ditinggalkan. Di masa pandemi Covid 19 ini, perlu inovasi dalam bekerja dan gaya hidup adaptif dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga hasil pekerjaan akan terasa oleh masyarakat dan tampak. Seperti lingkungan lestasi dalam visi, misi Kabupaten Kuningan,” papar Bupati Kuningan H. Acep Purnama dalam kesempatan Launching Bank Sampah dan Rumah Kompos yang digagas Dinas Lingkungan Hidup, belum lama ini.

Menurutnya, Bank Sampah untuk saat ini jadi gerakan efektif dalam penanganan sampah yang tak tertanggulangi oleh pelayanan Dinas LH. Cara mengumpulkan sampah, angkut lalu buang ke tempat pembunagan akhir (TPA) bukan solusi yang baik. Sebab itu hanya pengalihan persoalan di TPA saja.

“Penanganan sampah harus dilaksanakan dari hulu. Bukan dari hilir. Siapa hulunya? Tentunya hulunya adalah rumah tangga. Jika rumah tangga mampu melakukan pemilahan antara sampah organik dan anorganik. Maka bisa dikatakan selesai. Sampah anorganik dijadikan rupiah dan organik jadi kompos,” ujarnya.

Jaman sekarang sangat instan, masih kata H. Acep, semua produk mengacu ke plastik. Ya bungkus makanan menggunakan stereform, dan bahan berplastik. Walhasil, sampah sejenis itu numpuk dimana-mana. Dan jika dibiarkan akan menjadi tsunami sampah. Makanya harus ada gerakan bersama-sama untuk mengatasinya.

“Jika dulu, bungkus makanan menggunakan daun pisang. Seperti lontong, buras dan seterusnya itu menggunakan organik. Sekarang kan tidak lagi. Makanya kita harus mereview adat istiadat, budaya warisan leluhur kita yang ramah lingkungan harus dijaga dan dilestarikan. Tujuannya apa, yakni lingkungan hidup yang lestari,” paparnya.

Jika selama ini sampah tidak menjadi sahabat. Maka sekarang harus jadi teman dan jadi bernilai ekonomis tinggi. Sampah anorganik dikelola bank sampah dan dirupiahkan, kemudian ditabung. Jangan dibuang sembarangan. Jenis sampah apapun yang bersifat anorganik dapat dijual kembali.

Delapan RW Siap Jadi Bank Sampah

Di tempat sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Wawan Setiawan, S.Hut., MT., mengungkapkan. Launching Bank Sampah dan Rumah Kompos merupakan rangkaian puncak dalam memperingati Hari Bumi.

Ia pun mengamini bahwa lingkungan yang lestari sesuai visi, misi Kabupaten Kuningan harus berawal dari adanya perubahan mindset masyarakat terhadap persampahan.

“Kita membentuk bank sampah di delapan rukun warga (RW) di Kelurahan Kuningan. Kelurahan Winduhaji, Cirendang, Sengkahan, Cigintung, dan Winduherang. Selain itu ada Desa Dukuh Dalem Kecamatan Japara, Desa Kertaungaran Kec. Sindangagung, Desa Ciomas Kec. Ciawigebang. Ini merupakan rangkaian dan pengukuhan Bank Sampah Desa Situsari Kec. Darma,” terangnya.

Paska lebaran, sambung Wawan, pihaknya akan melanjutkan sosialisasi ke desa-desa lain dan membentuk Bank sampah. Tujuannya melakukan penyadaran masyarakat dalam pengelolaan persampahan. Supaya ada pemilahan secara nyata di lapangan dan menghasilkan pendapatan baru dari sampah.

“Sebelumnya kita memfokuskan di wilayah perkotaan. Namun ternyata di desa pun timbunan sampah cukup mengkahwatirkan. Sehingga perlu penanganan khusus. Untuk melaksanakan itu semua, kita melakukan kerja sama dengan pelbagai pihak. Diantaranya Bank Kuningan, Universitas Siliwangi, Stikes Kuningan, Universitas Pelita Bangsa Bekasi dan Universitas Kuningan,” jelasnya. (kh)***

Facebook Comments

Check Also

Sekda Dian “Tetap Disiplin Prokes, Karena Kita Terpaksa Hidup Berdampingan Dengannya”

KARTINI – Meskipun angka kasus terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten Kuningan mengalami penu…