Oleh : Vera Verawati

MALAM menukik tajam membawa gelap yang sunyi, bayangan sebuah perdebatan tinggalkan luka mendalam. Kelelelawar-kelelawar berisik di dahan jambu yang menebarkan oroma wangi buahnya yang memabukkan. Patahan kata jengkal kalimat terucap di garangnya matahari tadi pagi. Menusuk menghujam hati yang lelah menyimpan nyeri dan sepi

Rapuh ranting di dahan yang nyaris mati, namun pohon memintanya untuk kuat dan tegar demi dua burung pipit yang masih tinggal di sarang. Angin dan hujan mengguyur memberi basah yang dingin, berpeluh gigil, sisakan sebaris kuat yang hampir tiba pada putus asa.

Saat semua gelisah, resah, lelah dirasa. Bayang wajahmulah yang menjelma. Senyum bersahaja ema yang selalu mendamaikan dan melulukan deras bulir-bulir air mata. Bertahun sudah bumi menyimpanmu dalam tidur panjang. Ragamu pun telah kembali menjadi debu. Tapi rinduku kian menggebu.

Masih terngiang doa-doamu sesaat sebelum bisik lirih malaikat menjemputmu pulang. Dan kembali keharibaan Tuhan. Disampingmu ku bisikan kata cinta terdalam, menuntunmu dengan kalimat-kalimat perpisahan yang menggema di seantero aliran darahmu.

“Laailahaillah Muhammadarrosululloh”

Helaan panjang, matamu terpejam, ada senyum tergurat di bibirmu yang lama pucat oleh sakit yang berkarat sedang kau hanya diam menikmat. Ada bermula ada kembali. Pulangmu menyisakan kekhawatiran pada kalimat terakhir doa-doa lirihmu.

Ema, masa boleh beranjak, tahun berguguran, hari berganti, namun kau tetaplah wanita terbaik panutan hati. Satu-satunya orang yang bisa memahami setiap jatuh dan bangunnya. Kuat dan rapuhnya aku. Untukmu aku tegar dalam gelepar perjuangan pembuktian akan baktiku padamu.

Tuhan, besar cintaku lebih besar pula cinta-MU pada ema. Ketidakrelaanku kehilanggannya hanya penggalan sesal karena belum usai tugasku memberi ema kebahagiaan dan kebanggaan.

Kini, hari-hariku bertarung sendiri,. Rimba ini terlalu menakutkan untuk ku jelajahi sendirian. Sedang kedua burung pipit di ujung dahan. Sarangnyapun telah rapuh, usang oleh cuaca panas dan hujan yang menderma tanpa jeda.

Disini, pada setiap helaan napasku. Lantunan ayat-ayat penyampai cinta yang berhakikat, kutujukan untukmu. Tunggu aku ema, satu musim nanti, aku  akan datang bersama seseorang yang ada dalam doa terakhirmu. **

Facebook Comments

Check Also

Partisipasi Perempuan Dalam Pilkades Masih Rendah

KARTINI – Peminat menjadi calon kepala desa dari partisipasi perempuan ternyata masi…