SIANG yang terik atau pagi yang sejuk. Langkah itu tak terhenti. Bercumbulah dengan pepohonan. Ciumlah aroma dedaunan. Dan hirup bau segar rerumputan. Hijau menenangkan. Hingga lupakan semua soalan hidup.

Jalanan yang menanjak, dan turunan dengan kemiringan bak 90 derajat putaran jarum jam. Jurang-jurang terjal kiri dan kanan. Tapi aroma bunga-bunga hutan begitu menggiurkan. Melenakan segala lelah. Dan hembusan angin yang sepoi merayu untuk terus mendaki hingga puncak cinta illahiah diri.

Di sana aku dan mereka memuja ciptaan-Nya yang begitu mempesona. Kabut tersibak, pamerkan lazuardi nan elok rupawan memanjakan netra-netra yang terus melenguh oleh bulir-bulir sedih yang tersimpan sendiri.

Tap, tap…

Langkah itu pasti. Kulihat perbukitan dan sawah nan hiijau memanja mata. Di ketinggian yang menyandarkan pada kenyataan. Betapa tak mudahnya untuk menemukan sebuah kepuasan hidup. Karena hakikat bahagia ada pada kepasrahan dan penerimaan yang ikhlas.

Jika tiba dipuncak kau bisa berteriak, menjerit, marah, menagislah yang lama sampai semua sesak yang tertinggal membaur menjadi hembusan angin dan menggelayut pada kabut kemudian menjadi rintik hujan.

Basahlah bumi. Dan hijaukan kembali yang nyaris mati seperti itulah hidup. Waktunya turun. Dan kita telah tahu akan pijakan agar tak terpeleset dan jatuh dalam kenistaan.

Perempuan-perempuan pecinta semesta, menemukan cinta pada kesunyian yang hakiki. Menyerta derma pada hasrat yang menggelora. Dan redam gairah di sajak-sajak alam, sembunyikan semua gelisah dengan menganyam asa di ujung purnama. Pada sebuah harpan yang akan selalu ada. Kita bahagia dengan cara sederhana. **

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Yuk Kenali Manfaat Buah Dari Warnanya

KARTINI – Dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehat…