Oleh : Vee

PAGI ini mentari bersahabat. Senyumnya menyeruak begitu segar. Sinarnya cantik menerpa bulir-bulir padi yang mulai menguning. Biasnya mengkristal di beningnya aliran sungai di tepian sawah. Ah, romantisnya pagi ini.

Beranjak sejengkal, surya mulai gahar. Terbiasa dibungkus gigil saat penghujan. Siang ini terasa panas. Ada yang terbakar. Ada yang tergores. Dan luka itu kembali berdarah. Bukan olehmu, Tuan. Tapi aku sendiri yang melukainya.

Hati ini berteriak. Kencang hingga memekakan kedalaman nurani. Cukup, semua harus di akhiri. Jangan mematung dan menikmati indahnya purnama dari kastil yang bukan milikmu. Bergegas pergi dan katakan selamat tinggal.

Sebelum musim berganti. Dan hatimu terlalu dalam jatuh cinta. Waktu bergulir tanpa kau sadari. Malam dengan purnama indah akan segera tiba. Diamlah dan tenangkan hatimu. Menikmati sebait lagu yang begitu pas dengan momentum saat ini.

“ Cinta yang tepat di waktu yang salah “
Entah siapa yang membuat lagu itu. Liriknya terlalu memorial. Aku yang terlalu melo mungkin. Atau memang hati yang sedang sentimentil hingga air mata begitu mudah jatuh. Norak, tak mau menangis. Nyatanya netra ini begitu terdesak oleh nyeri yang lagi-lagi harus ku nikmati.

Cepatlah sembuh wahai hati. Tidak perlu menangis terlalu lama untuk sebuah kebodohan. Dunia ini indah seindah setiap baris puisi yang kau buat. Teruslah mengukir bahagia di senyummu yang selalu sumringah.

Untuk dunia yang akan selalu menyambutmu dengan bahagia. Perbaiki diri dan bebaskan hati dari imaji yang tak pernah nyata. Pastikan langkahmu kali ini benar, ada dalam ridho-Nya, aamiin.**

Kuningan 22 Maret 2021

Facebook Comments

Check Also

Dinilai Peduli Terhadap Pekerja Perempuan, Dinkes Dianugerahi Penghargaan

KARTINI – Perempuan bekerja saat ini trennya semakin naik dan lembaga/perusahaan pun…