LANGIT seperti menyimpan amarah yang teramat, atau ini bentuk dari tangisan luka yang berkarat, aku dan sepotong harapan. Terdampar pada lautan bergelombang. Ingin mengamuk pada siapa ?

Kabut tebal menyelimuti dengan sempurna, tak sisakan pandang barang sedepa saja agar aku bisa pulang, meski harus menerobos amukan hujan. Dua wanita berjilbab, satu  hitam dan satu lagi hijau tua menuntun empat anak. 2 laki-laki dan 2 perempuan, mereka kebingungan. Diam dengan hati yang tak karuan karena pulang jelang malam.

Dan lima pria didepanku, empat diantaranya bicara begitu serius. Mungkin bertukar cerita tentang wanitanya yang kehabisan gincu atau kehilangan giwang hadiah dari pertukaran tubuh. Atau bisa jadi mereka sedang merencanakan sebuah koalisi politik. Ah, anggap saja mereka sedang bicara tentang secangkir kopi lattte didepannya.

Sisakan saja seotong harapan, untuk angin yang berhembus dengan kencang. Karena kencangnya bahkan akupun tak merasakannya. Ingin sendiri tanpa ada yang melihat agar aku bisa sedikit lega untuk berbagi cerita tentang kecewa.

Bangku-bangku berderet rapi dengan pasangan meja yang serupa, seperti kita. Bukan, bukan kita tapi dirinya. Siapa dirinya, asal saja aku bicara. Hanya mengulas mereka yang lewat didepan muka.

Motif dinding berwarna coklat, hitam dan putih. Mungkin pemilik tempat ingin bercerita tentang cintanya pada warna kayu.

Atau itu sebuah lukian tentang usia yang tak lagi muda. Meski bangku dan meja di desain dengan gaya terkini. Lantainya berwarna hitam aspal, tak terlalu pekat. Tapi lebih pekat dari kopi yang kuteguk.

Tersisa ampas disana, seperti hidup yang selalu menyisakan kenangan. Ada tangis yang tersimpan. Ada luka yang menganga namun berpura bahagia. Aneka hidangan kehidupan yang terpampang digambar kadang tak seperti kenyataan yang diharapkan.

Seperti para belia yang belajar bersolek. Hingga pandai mengukir alis dan bibir. Namun tak pandai menata hati dan baju agar tak tersingkap hingga memantulkan hasrat. Hujan masih saja deras. Jam sudah menunjukkan 16.34 sore. Pintu akan segera ditutup dan aku masih duduk dengan benda kotak berhuruf. Tik tik tik tik tik. Kemudian bisu tak menjadi kata. Terpenggal oleh hujan yang tak jua reda.

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Setelah Diperiksa Jaksa, MR Resmi Ditahan Kejaksaan

KARTINI –  Selama lebih dari tiga jam, tersangka kasus penyalahgunaanDana Sumbangan …