KUPANDANG dedaunan di dahan tinggi menjulang, hijau cerah daun hendak berbuah, putik mulai timbul bukti cinta telah menjadi.

Genting diatas terlihat hitam berlumut, usang dirapuhkan musim, rapuh dihempas hujan yang datang tanpa jeda. Satu dua pot anggrek bergelantung terayun kesana kemari ditiup angin yang gigil oleh sepi sekeping hati.

Orang-orang berkaos hitam duduk dibangku terpisah-pisah. Enggan bergerombol mungkin takut tertular virus penyebar maut mengerikan. Mamang dan mpok dipintu masuk termangu digerobak jualannya masing-masing.

“Tak ada air mata untuk kami, cinta meniadakan segala bahkan tangispun sudah tak bisa.” Dan terhuyung berpegangan pada pagar-pagar besi menawan mimpi, segelas kopi hitam setia menemani ditepi laptop penyimpan data diri nan rapuh.

Lelaki berambut panjang bicara dimikrophone, mengajak banyak orang bertandang sekedar mencari hiburan pengusir kejenuhan rutinitas yang terkadang mulai membosankan, jam menunjukkan jam 16.00, sore yang dingin dibawah deras hujan dan sesekali petir meninggalkan bias terang menakutkan. Bak jari jemari malaikat yang hendak mengambil ruh dari jasad penuh dosa.

Bergegas bisik-bisik beberapa orang, mengajak merapihkan jualan karena dirasa tak akan ada pengunjung yang datang dibawah hujan deras, hanya mereka yang tertingal setelah puas bermain. Menunggu reda dengan menghitung berapa bola yang masuk dalam genggaman. Satu, dua menghitung tanpa terasa level tertinggi sudah, hingga bintang berderet diberikan aplikasi.

Perempuan berbobot lebih, baju putih garis horizontal biru, berjalan melenggok, begitu percaya diri seolah berjalan diatas catwalk, sejenak beberapa pasang mata terhibur untuk memalingkan pandangan.

Lelaki muda kurus rambut rancung tersenyum mesum, yang lain bahkan tak berkespresi apapun. Datar saja, mungkin itu tak terlalu menarik untuk meluruhkan pikiran tentang nasib ibu dan adik-adik dirumah, makankah mereka ?, Dan berfikir, mungkinkah nanti malam dia pulang dengan sebongkah berlian?.

“Ah itu terlalu ketinggian.” Bisik hatinya.
Cukup beberapa lembar ribuan setidaknya pulang dengan sebungkus nasi dan tempe goreng, itu cukup membahagiakan istri dan buah hati mereka, meski harus berbagi, tapi cukuplah menunda lapar dan melelapkan kenyang dalam tidur dan bermimpi tentang sebuah pesta dan hidangan serba wah dimeja makan.

Dan akupun bergegas menerobos hujan tanpa peduli lagi tentang bayang tangan kematian diantara petir dan gemuruh angin yang dibawa hujan setiap sore.

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Setelah Diperiksa Jaksa, MR Resmi Ditahan Kejaksaan

KARTINI –  Selama lebih dari tiga jam, tersangka kasus penyalahgunaanDana Sumbangan …