AKHIRNYA aku menyerah, pada kebersamaan semu ini. Atas kesetiaan pada lelaki yang merasa paling setia, sedang menduakan artinya apa untuk dia ? entahlah ? yang pasti satu hal dia bukan pria sendirian.

Mungkin kisah semu berujung luka menutup kisah abu-abu diakhir tahun. Itu lebih baik untuk aku dan dia, bukan kau. Karena setelah ini bisa saja kau berlabuh pada dermaga semu lainnya, mengatasnamakan cinta.

Ah sudahlah, sebaiknya hapus semua ingatan tentang kau, agar tak menganga luka sayatan ini, sedang robekan nyeri yang lama belum sembuh benar. Kini, luka itupun tergurat lagi. Bukan kau atau dia yang membuatnya, tapi aku sendiri dan kebodohan yang kubuat sendiri.

Terjerembab, meninggalkan sepenggal kisah, tak ada yang harus kuingat dari kebersamaan itu, jika benar cinta itu tanpa syarat. Tentu tak akan sisakan dendam berbalas. Jika ada kecewa diantaranya semua bisa dibicarakan, seharusnya begitu dari cinta. Tapi menyimpan, mencatat diingatan dan menunggu waktu untuk berbalas dan itu kau bilang “Cinta”. Jika kejujuran dan keterbukaan, kau nilai sebagai sebuah penghianatan, lalu apa artinya saat kau bersamaku.

Kepalaku terlalu kecil untuk mengenang omong kosong, biar kularung saja pada lautan keyakinan. Bahwa tanpamu akan baik-baik saja, meski dimula akan ada limbung sejenak, tapi itu lebih baik. Yah itu lebih baik, dari terus bersama dan akan terulang hal yang sama. Terluka, tersimpan, dan berbalas menyakitkan.

Waktuku terlalu berharga untuk menyimpan satu nama yang memintaku terlihat jelas dikegelapan, sedang disekelilingku jaring abu-abu mengungkungku. Sisa waktu yang tinggal hitungan detik ini, mari kita putuskan jaring itu, pecahkan cermin saja. Agar lukanya menyadarkanku akan nyeri yang nyata.

Bebaskan dari belenggu yang tak terlihat, karena memang tak mungkin diperlihatkan, agar tak ada lagi kepura-puraan. Karena kau hanya ingin berbagi kebahagiaan saja, sedang sejenak kusandarkan gundahpun kau catat sebagai satu kecewa.

Maaf, aku pamit atas diri yang selalu tercatat penuh kekurangan, dan kau terus meminta kesempurnaan. Jika kebersamaan bersama mereka adalah penghianatan, maka undurlah diri ini, karena denganmupun tak berujung pada kepastian.

Bismillah, kembali ke titik nol, kuatkan hati dan tekad, berjalan sendirian sudah terbiasa bukan, usah takut, teruslah melangkah, yakinlah akan banyak cahaya yang menuntunmu pada kebaikan yang hakiki. **

Oleh : Vera Verawati (Kuningan 31 Desember 2020)

Facebook Comments

Check Also

Putri Dongeng di Pondok Pinus

KARTINI– Negeri dongeng dan kastil serta putri yang cantik. Seperti tidak mungkin. T…