KARTINI – Selain diberikan penyuluhan seputar HIV/AIDS, sejumlah anak jalanan yang ada di Kabupaten Kuningan bersedia di tes VCT (Voluntary Counselling and Testing).

Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (4/12/2020), di Jalan Langlangbuana, Kuningan, dalam rangkaian hari AIDS sedunia, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Lamepayung.

Koordinator dan Pengelola Program HIV/Aids dan PIMS Puskesmas Kuningan, Pipit, memaparkan kegiatan tersebut merupakan inisiatif dari Anggota DPRD Kuningan Fraksi Gerinda yang meminta untuk melakukan test VCT dan penyuluhan tentang HIV/AIDS terhadap anak – anak punk.

“Alhamdulillah Kami tadi telah melakukan penyuluhan terhadap anak-anak punk tadi tentang apa itu HIV/Aids, cara penularannya dan cara pencegahannya,”terang Pipit.

Semoga hasilnya negatif, namun bila ada yang positif maka bisa diantisipasi untuk segera diobati. “Karena sebetulnya penyakit menular HIV/Aids ini adalah penyakit yang bisa dicegah dan diobati,”ujarnya.

Usai didata, petugas kesehatan menyiapkan peralatan tes VCT. Lucunya saat akan mulai tes, anak-anak punk itu menolak mengikuti tes VCT. Hal itu tentu membuat kaget dan bingung petugas serta relawan yang ada disana.

Rupanya ada alasan kenapa anak-anak punk itu enggan menjalani tes VCT. Mereka ternyata menunggu ‘Bunda’ mereka yang saat itu belum hadir di lokasi. Bunda mereka itu ternyata seorang anggota DPRD Kabupaten Kuningan, Sri Laelasari.

Saat ditanya, salah seorang anak punk mengaku sering dikunjungi bundanya itu. Bahkan tidak jarang, Bunda mereka mengajak anak-anak punk untuk minum kopi bersama. Itulah kenapa anak-anak punk ini enggan mengikuti tes VCT sebelum si Bunda datang.

“Bunda sering main kesini, sering ngajak ngopi juga. Makanya kalo Bunda ga kesini, kami gamau di tes,” ucap salah seorang anak punk yang rupanya ‘ketua’ disana.

Sembari menunggu si Bunda datang, petugas membujuk anak-anak itu untuk tes VCT. Ada yang mau, banyak juga yang tetap menolak menunggu si Bunda datang, termasuk ketua itu tadi.

Salah seorang relawan kemudian menghubungi Sri melalui video call. Sri bicara dengan anak-anak punk disana dan mengatakan akan segera datang ke lokasi.

“Ini lagi dijalan, tunggu kalian tes saja dulu jadi pas datang sudah selesai biar santai,” ucap Sri kepada anak-anak punk itu melalui video call.

Sementara Aleg yang juga aktivis peduli ODHA, Sri Laelasari mengatakan komunitas punk ini beresiko tinggi terhadap HIV/Aids, atas dasar itulah Ia mengajak mereka untuk mau memeriksakan kesehatannya.

“Saya ajak mereka untuk test VCT itu agar mereka paham akan kesehatan, karena penularannya itu bisa dari jarum suntik,darah, juga sperma,”jelas Sri.

Sebab, kata,Sri, anak-anak jalanan itu pun sebenarnya peduli juga terhadap sesama bahkan mereka sempat ingin mengadakan sunatan massal. “Mereka punya keinginan seperti itu dan peduli terhadap sesama kenapa saya tidak, karena itulah saya tergerak untuk melindungi mereka atas bahayanya HIV dan AIDS,”papar Sri.

Karena hujan turun semakin deras, petugas kesehatan memutuskan untuk menunda tes VCT untuk anak-anak sore itu. Mereka kemudian beranjak dari lokasi menggunakan kendaraan dinas puskesmas. (Dien)**

Facebook Comments

Check Also

Dinilai Peduli Terhadap Pekerja Perempuan, Dinkes Dianugerahi Penghargaan

KARTINI – Perempuan bekerja saat ini trennya semakin naik dan lembaga/perusahaan pun…