GURU. Digugu dan ditiru, yang memperkenalkan pada hurup, mengeja menjadi kata, menyusun menjadi kalimat, menjadi pidato, menjadi puisi atau sajak, menjadi cerita. Gurulah yang menjadi jendela kita mengenal semua itu. Yang mengenalkan berbagai suara, dari suara binatang suara alam higga suara kemanusiaan.

Tahun 2020 menjadi tahun yang dilematis untuk para guru kita, bersamaan dengan pandemi yang merebak, proses belajar mengajar tak bisa berjalan seperti biasa. Siapa pihak yang paling dirugikan ?

Tidak saja siswa-siswi yang kehilangan kesempatan belajar begitupun sebaliknya dengan guru-guru yang juga berduka karena tak bisa mengajar secara tatap muka, meski ada gadjet sebagai fasilitas untuk proses belajar mengajar namun tak sebaik secara tatap muka. Ikatan batin yang begitu erat antara siswa  dan guru yang membuat hubungan dianatara keduanya terasa istimewa.

Sistem pendidikan saat ini dituntut untuk lebih memberi keleluasaan pada siswa dalam menerima pelajaran. Interaksi dalam proses belajar mengajar tidak melulu berada diruang kelas, tapi juga melalui berbagi media diluar ruangan.

Pandemi menjadi satu fase dimana gajet pada akhirnya difungsikan sesuai keseharusannya, yakni menjembatani proses belajar mengajar. Meski tentu dengan segala keterbatasan, karena tidak semua siswa memiliki gadjet sebagai sarana pembelajaran.

Semangat untuk kembali ke sekolah bertemu guru-guru menjadi salah satu alasan siswa antusias ketika sekolah secara tatap muka diberlakukan setelah sempat dilakukan pembatasan sosial. Alasan siswa yang paling menarik adalah rindu dengan guru-gurunya. Karena dimata mereka guru mereka lebih baik dalam menyampaikan materi pelajaran dibanding dengan orang tuanya.

Guru, tidak saja figur yang paling didengar oleh siswa, mereka menjadi orang tua sewaktu disekolah, terkadang tidak sedikit yang ikatan secara emosional begitu terlihat saat sebuah pemilihan guru terfavorit diadakan.

Mencetak generasi adalah tugas guru yang paling besar meski kadang jasa paling mulia ini terlupakan begitu saja, tanpa piala citra atau tanda jasa. Namun dimata siswa guru tidak saja sebagai pahlawan, pengajar, juga sebagai teman dan orang tua.

Secara global fungsi guru yakni mencetak generasi penerus bangsa menjadi generasi-generasi beriman, cerdas, pintar dan bermoral. Untuk guru di seluruh negeri, mari bangkitkan semangat dalam mencipta generasi lebih berkualitas dan wujudkan kemerdekaan dalam  belajar dan mengajar.

Terimakasih tiada terhingga untuk jasamu yang tak terbilang, untuk kasihmu yang tulus, engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa, karena setiap hal hebat dibumi ini ada karena jasamu guru. (Vera Verawati)**

Facebook Comments

Check Also

KKI Neduci Cetak Kader Penulis Handal

KARTINI – Banyak cara untuk mengembangkan minat baca dan menulis, salah satunya gebr…