PANDEMI merupakan rekaman membingungkan untuk generasi saat ini. Bagi sebagian anak yang tidak memiliki fasilitas gadjet untuk mengikuti pelajaran tentu sangat merugikan karena mereka tidak bisa mengikuti pelajaran secara maksimal.

Tidak juga menjamin bahwa siswa yang memiliki gadjet mampu mengikuti pelajaran sesuai harapan. Antusias siswa yang merindukan sekolah secara normal sebelum pandemi terjadi begitu terlihat. Rindu berbaris upacara bendera setiap hari Senin dengan guru-guru yang lengkap serta teman-teman yang juga komplit  berbaris rapi.

Tiba-tiba masuk sekolah dengan soal ujian yang menunggu, bagaimana sikap siswa-siswi  kita ? Ada yang optimis mampu menjawab soal ujian dengan baik, ada yang hanya datar saja karena mereka merasa belajar selama pandemi begitu terbatas.

Sempat diberlakukan dengan belajar kelompok, namun karena dirasa adanya kerumunan walau dengan jaga jarak. Memberi kekhawatiran pada sebagian orang tua, akhirnya kembali sekolah diikuti dari rumah masing-masing siswa.

Seminggu sudah sekolah tatap muka dimulai, betapa bahagianya anak-anak kita menyambut kabar tersebut. Namun kekecewaan kembali terlihat saat tahu sekolah tidak juga bisa dengan kondisi normal.

Masih dibatasi dengan berbagi waktu belajar. Agar kelas bisa diikuti sesuai protokol kesehatan. Upaya memaksimalkan pendidikan siswa-siswi terus diusahakan. Namun pandemi tetap membatasi keleluasaan bergerak. Generasi virtual yang dihasilkan oleh pendidikan online., Mampukah mereka bersaing dengan mereka yang menikmati pendidikan secara normal sebelum pandemi terjadi.

Bagaimana Kualitas Mereka ?

Generasi virtual memiliki tantangan jauh lebih sulit dari mereka yang menikmati pendidikan sebelum pandemi. Tuntutan menguasai materi tanpa ada penjelasan lebih detail layaknya kelas normal yang menerima penjelasan secara langsung oleh gurunya.

Peluang menguasai materi pelajaran seyogyanya lebih besar bagi mereka yang memahami artinya browsing atau penelusuran melalui internet. Fasilitas yang diberikan berupa internet gratis dari sekolah hanya 30 persen saja digunakan untuk proses belajar, sisanya diluar dugaan, banyak siswa justru menggunakannya untuk berselancar dengan game online.

Peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar pada generasi virtual ini. Kesabaran orang tua mendampingi mereka selama belajar dirumah memang tak bisa sebaik guru dalam memberikan materi pelajaran. Kerjasama merupakan solusi terbaik. Antara guru dan orang tua untuk tetap mengawasi anak-anak dalam menggunakan gadjet selama proses belajar megajar tersebut.

Semoga pandemi segera berakhir, jangan hanya mall saja yang tetap bebas beroperasi sedangkan sekolah masih harus dibatasi ruang dan waktu proses belajar mengajar dengan tetap  mengikuti protokol kesehatan yang ketat.**

Oleh : Vera Verawati

Facebook Comments

Check Also

Bersama Hujan Yang Selalu Datang Dipenghujung Sore

KUPANDANG dedaunan di dahan tinggi menjulang, hijau cerah daun hendak berbuah, putik mulai…