KARTINI – Selain Fraksi PDIP yang berusaha ‘membela’ Nuzul Rachdy dengan alasan ketidakhadirannya ke sidang karena tidak ada undangan resmi, Nuzul pun dibela Ahli Teradu yang juga Guru Besar UNPAD.

“Bila saya di posisi BK – dengan tegas menyatakan bahwa “Teradu” (dlm hal ini, Pa Zul-red) tidak terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik atas ucapannya dalam wawancara dengan awak media, dan oleh karenanya dibebaskan dari adanya dugaan pelanggaran Kode etik,” kata Ahli Hukum Tata negara yang juga Guru besar Unpad Prof. I Gede Panca Astawa.

Begitu pula yang disampaikan ahli teradu lainnya, DR. Nik Nik M Kunarto, Dr. Azis dan Randy Ramlyady, yang secara tegas berdasarkan keilmuannya, bahwa tidak ada unsur penghinaaan dan pelecehan kepada pihak manapun atas diksi limbah yang disampaikan dalam wawancara di media. “Sama sekali tidak dijadikan dasar pertimbangan,” tandas Nik Nik.

Pada saat sidang akhir BK, Fraksi PDIP memberikan keterangan pers, bahwa ketidakhadiran kader PDIP sebagai teradu di sidang BK dikarenakan tidak mendapat undangan resmi dari BK. Dimana dalam tahapan beracara, BK harus mengeluarkan surat resmi pemanggilan kepada pihak teradu (dalam hal ini Nuzul Rachdy).

“Dalam ketentuan peraturan kode etik ada azas keadilan dan azas objektifitas. Asas keadilan dalam arti memperhatikan juga pendapat ahli yang disampaikan pihak teradu. Dari sisi objektifitas tentunya dalam persidangan, BK harus menggali fakta-fakta persidangan baik kesaksian atau dalam bentuk lainnya termasuk pembelaan dari pihak teradu,” papar Ketua Fraksi PDIP, Dede Sembada, SH. (kh)***

Facebook Comments

Check Also

Menu Hemat Saat Uang Belanja Nyaris Tamat

KARTINI – Tanggal tua biasanya memang isi dompet sudah mulai menipis, apalagi ditamb…