KARTINI – Hanya dalam waktu lebih kurang delapan hari atau sepekan, masyarakat Kuningan tercatat sudah menyentuh angka dua ribu yang menjadi akseptor KB.

Jumlah tersebut sudah melebihi target Jawa Barat dalam menyasar penduduknya untuk menjaga jarak kehamilan. Sedangkan target Kuningan hanya 1.063 akseptor, dan menduduki rangking pertama di Jawa Barat dalam capaiannya.

“Betul, Kuningan menduduki rangking pertama dalam target capaian akseptor, mencapai 187,11 % dari yang ditargetkan. Ini adalah dalam rangka Hari Kontrasepsi Sedunia (HKS) yang jatuh pada tanggal 26 September,” ujar Kepala DPPKBP3A, Trisman Supriatna, kepada http://kartinikuningan.net, Jumat (25/9/2020).

Dikatakan Trisman, jumlah 2.000 Akseptor KB Kuningan tersebut terdiri dari IUD sebanyak 650 dan implan 1.350, dan hanya MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) yang dilombakan, sedangkan metode kontrasepsi lainnya yaitu suntik dan pil tidak masuk kategori.

Jumlah tersebut bisa bertambah seiring diikutkan dengan progam Satuan Gerak PKK. Sedangkan metode yang digunakan selain dengan Satuan Gerak PKK, sejak awal menggunakan strategi kekompakan para tenaga BKBPP termasuk penyuluh KB dan tenaga medis (bidan) desa maupun bidan tetap puskesmas dalam mengajak pasutri untuk ber-kontrasepsi.

“Kita juga menggandeng TNI Manunggal, dan ternyata kesadaran masyarakat Kuningan dalam ber-KB cukup bagus, dan terbukti hanya dalam waktu beberapa hari saja, jika dilakukan secara masif, ternyata bisa,” paparnya.

Pandemi Covid-19 tidak menjadi penghalang bagi DPPKBP3A dalam mengedukasi masyarakat, terutama kepada PUS (Pasangan Usia Subur). Karena pola yang digunakan selama Pandemi bukan berkerumun, namun pola Komunikasi, Informasi dan  Edukasi.

“Dengan strategi edukasi dan kepiawaian mereka (bidan, penyuluh, Dinkes serta lainnya-red) tetap bisa dilalukan, tentunya batasan pengunjung ke tempat pelayanan dipatuhi dengan protokol kesehatan lainnya,” jelas Trisman.

Trisman mengajak kepada masyarakat terutama PUS untuk bisa menunda kehamilan dan menjaga jarak kehamilannya, terutama pada masa Pandemi. Pasalnya selama masa kehamilan, daya tahan tubuh itu menurun, sementara untuk menangkal virus terutama corona, salah satunya dengan daya imunitas yang kuat.

“Saya himbau di masa Pandemi untuk menunda dulu kehamilannya, termasuk pasangan yang baru menikah, karena ibu hamil perlu daya tahan tubuh yang kuat, dan secara ekonomi juga¬† akan brpengaruh,” harapnya. (kh)***

Facebook Comments

Check Also

Menu Hemat Saat Uang Belanja Nyaris Tamat

KARTINI – Tanggal tua biasanya memang isi dompet sudah mulai menipis, apalagi ditamb…