DETIK-DETIK proklamasi telah menggema sejak 75 tahun lalu. Gaungnya menggetarkan dunia. Namun sudahkah kemerdekaan itu dinikmati seluruh anak bangsa di negeri ini?

Berbagai polemik di lapangan, kita menyaksikan begitu banyak permasalahan timbul dan mencuat dengan geliat yang mengerat, menjerat hingga jiwa-jiwa lemah hidup diantara mimpi-mimpi yang dilambungkan lewat janji-janji yang tak juga terbukti.

Dihadapkan pada kenyataan betapa janji-janji para pemimpin hanya sampai pada memberi mimpi dan melambungkan pada bayang-bayang yang tak terpenuhi.

Harapan tentang menurunnya perompakan massal (korupsi) dipikir akan berhasil ditahun ini, namun buktinya justru bertambah. Pandemi pun menjadi satu senjata jitu menggerogoti kekayaan negeri. Akankah ada pulau lain yang terjual ?

Ini tentang waktu, masihkah beralasan tidak cukup waktu untuk membenahi sebuah tatanan keidupan bernegara untuk menciptakan sebuah pemerataan kesejahteraan rakyat. Dan itu yang selalu menjadi alasan birokratif di negeri ini.

Diantara ratusan juta penduduk Indonesia memiliki talenta-talenta dan energi sangat besar untuk membangun perekonomian negeri lebih baik, tapi kenapa harus mendatangkan banyak tenaga kerja asing untuk sebuah pembangunan fasilitas negeri yang otomatis akan dimanfaatkan oleh anak negeri sendiri.

Menjadikan mereka pengangguran dan memberikan penghidupan bagi bangsa lain. Itukah efektifitas ? atau hanya sebuah intrik politik yang akhirnya hanya segelintir saja yang terus menancapkan kuku-kuku kekuasaan.

Bagaimana Anak Bangsa di Negeri Kita ?

Kemana pemuda kebanggaan bangsa, mereka yang berprestasi di berbagai bidang tenggelam hanyut lebih memilih menerima upah dollar, karena negeri dimana rupiah diperebutkan tak  menghargai dengan pantas, miris. Betapa susah payah memerdekakan negeri ini. Pahlawan kita dimasa lalu tidak saja berjibaku dengan bahaya, perut yang lapar.

Desingan timah panas dan tangis darah kehilangan orang-orang terkasih. Untuk sebuah kemerdekaan dan warna merah putih untuk bisa berdiri dan berkibar dengan gagah tidaklah mudah. Haruskah generasi berikutnya justru saling bertarung seperti game-game online yang mereka mainkan. Dan cukuplah mereka menjadi boneka-boneka dari asing berotak komputer, yang pada akhirnya mereka terlambat menyadari negeri ini tengah sakit.

Indonesia diusia ke-75 mari rapatkan barisan, jika ingin negara kita maju seperti gelar yang tersemat itu. Maka majukanlah generasi muda kita. Bersihkan tidak saja sampah-sampah di jalanan, di hutan, di sungai, di laut, di udara, tapi juga ditubuh birokrasi itu sendiri. Anti korupsi jangan hanya sekedar logo, tapi buktikan dengan memberi hukuman seberat-beratnya tanpa penjara dengan fasilitas VIP.

Segenap keluarga besar Kartini Kuningan Mengucapkan “ Dirgahayu Indonesia ke-75 semoga Indonesia benar-benar maju diseluruh pemerataan sosial, ekonomi dan kerakyatan yang adil dan beradab. Merdeka !!! (vera)**

Facebook Comments

Check Also

Menu Hemat Saat Uang Belanja Nyaris Tamat

KARTINI – Tanggal tua biasanya memang isi dompet sudah mulai menipis, apalagi ditamb…