Sejauh Mana Pemerintah Peduli Kepada Para Pelaku Pelestari Adat?

STP Trisakti Bekali Pelaku Ekraf Desa Wisata Miliki Nilai Jual Yang Sebenarnya
August 12, 2020
Jelang Libur Panjang, Polres Siapkan Pengamanan Terutama Di Jalur Wisata
August 14, 2020

Sejauh Mana Pemerintah Peduli Kepada Para Pelaku Pelestari Adat?

Oleh : Vera Verawati

MENDEKATI ulang tahun Indonesia yang ke 75 sudah sejauh mana pencapaian pelestarian terhadap adat dan tradisi yang ada di negeri ini?

Seperti diketahui sebagai Negara khatulistiwa Indonesia adalah negara terbesar yang memiliki segudang pesona, tidak saja berupa keelokan negerinya serta limpahan kekayaan yang terkandung dibumi Indonesia. Tapi juga keaneka ragaman adat dan budaya serta tradisi yang bertebaran diseluruh penjuru Indonesia.

Amat disayangkan jika seiring globalisasi diseluruh aspek kehidupan di negeri kita, menggerus perlahan dan pasti, mengikis pundi-pundi tradisi yang harusnya lestari. Memudarkan kemesraan adat istiadat yang telah ada hingga berabad lamanya kini nyaris tiada.

Generasi kita saat ini sedikit sekali yang peduli tentang adat dan tradisi, paradigma hidup yang serba dituntut cepat dan mudah melahirkan dan terbentuknya generasi instant. Sejauh mana kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap upaya pelestarian adat dan tradisi termasuk kepedulian terhadap nasib  para pelaku yang terlibat didalamnya.

Bagaimana Masih Seniman di Kuningan?

Kuningan sendiri  memiliki beberapa adat dan tradisi yang terus diupayakan kelestariannya. Namun sosialisasi yang kurang maksimal membuat masih banyaknya masyarakat yang belum tahu bahwa Kuningan sendiri memiliki berbagai bentuk tradisi dan adat.

Contoh yang masih berjalan hingga saat ini yakni upacara adat “Seren Taun” yang mampu menyedot perhatian luar biasa. Membuktikan betapa rendahnya pengetahuan terhadap satu bentuk adat/tradisi. Besarnya antusiasme masyarakat untuk ikut menyaksikan upacara adat “Seren Taun” ini terlihat dari banyaknya warga yang datang menyaksikan. Namun dimasa pandemi ini upacara tersebut dilakukan secara terbatas.

Perubahan paradigma masyarakat dari agraris ke industri yang tidak berbanding lurus dengan perubahan sikap, terutama seniman melakukan kegiatan seni merupakan pengabdian terhadap kebudayaannya dan lebih spesifik pada sistem keyakinannya. Dalam posisi seperti ini, seniman lebih meyakini hal tersebut sebagai pengabdian ketimbang pamrih. Sementara di masyarakat industri, segala yang berkaitan dengan profesi ukurannya adalah materi.

Pada seniman-seniman yang yang sudah berada pada tataran industri, profesi mereka adalah salah satu bentuk upaya untuk bisa menghasilkan uang. Seniman tradisi memiliki nilai lebih karena tidak melulu mengedepankan bayaran, melainkan lebih ke membangun silaturahmi yang baik melalui dinamika kebudayaannya, meski terkadang beberapa orang justru menyalah gunakan kebaikan oleh oknum-oknum yang bersifat eksploitatif. Butuh pembenahan secara total agar sistem remunerasi seniman tradisis agar dapat penghargaan yang layak.

Seni dan budaya perlu dipertahankan mengingat bentuk, struktur, atau nilai estetika tapi lebih jauh nilai etika yang menjadi ciri jati diri kita. Penghambaan terhadap budaya seni bisa tereliminasi jika dikelola menggunakan parameter sistem nilai normatif bukan materialistik. Pemerintah turut andil besar menentukan maju mundurnya seni dan budaya satu daerah.

Jika pemerintah berpihak pada budaya leluhurnya maka kita akan mengikuti deras itu dengan sampan yang kokoh tapi jika tidak digawangi regulasinya maka tidak menutup kemungkinan para seniman akan berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Akan terjadi distorsi habis-habisan dan klimaknya anak cucu kita harus pergi ke USA atau Austrlia  hanya untuk belajar  kecapi atau gamelan.

Dikotomi tradisi dan non tradisi membuat kondisi makin rancu karena beberapa kebijakan kebudayaan menunjukkan adanya sekat yang jelas dirasakan para pelaku/pekerja seni. Menjadi pekerjaan rumah untuk semua pihak pelaku seni dan budaya. Kerjasama dengan pemerintah berikut antar pelaku/pekerja seni dan budaya itu sendiri serta masyarakat akan menentukan kelestarian adat/ tradisi serta seni dan budaya yang ada.

Dibutuhkan saling berkesinambungan seluruh aspek pendukung, tidak hanya pelaku seninya saja. Mari lestarikan seni dan budaya yang ada dan teruslah memperbaiki diri agar mampu mencipta msyarakat adat yang beradab dan lestari dalam harmoni, jangan biarkan waktu memupus semua yang ada. Merdekaa..

Kuningan,12 Agustus 2020

Facebook Comments

Comments are closed.