KARTINI – Tugu Bokor Bundaran Cijoho Kuningan yang dibangun jaman Bupati Aang sudah lama tidak terawat. Cat dan bagian yang menggunakan semen sudah terkelupas, bokornya pun di beberapa sudut mulai menghitam terkena jamur.

Namun beberapa hari belakangan, tugu tersebut sudah kembali ke warna semula yakni warna emas . Hal ini membuat pengguna jalan dari arah Cirendang, Ancaran, Purwawinangun maupun Jananuraga terkesima akan keindahan tugu Bokor yang bermandikan warna kuning. Sehingga mengundang decak kagum akan keindahannya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab.Kuningan, Wawan Setiawan, S.Hut., MT., memaparkan, salah satu tugas pokok dinas-nya adalah melaksanakan perawatan pertamanan. Dari sekian banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Sementara yang rutin seperti persampahan berjalan secara reguler.

Pertamanan di Kab. Kuningan sudah cukup banyak yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup, hanya saat pandemi Covid 19 kurang mendapat perhatian. Karena semua elemen di DLH fokus membantu Gugus Tugas Covid 19. Setelah agak mereda, baru pihaknya melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang lain.

“Kenapa, beberesih dimulai dari tugu Bokor dan Pandapa? Kita memiliki alasan tersendiri. Salah satunya bahwa bokor memiliki nilai tinggi dalam sejarah peradaban Kab. Kuningan, termasuk pandapa. Nilai-nilai itu mempengaruhi juga dalam lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara di Kuningan,” terang Wawan.

Kuningan ‘Geulis’

Tata nilai itu harus dilesatarikan secara paripurna. Bukan semata-mata tugu dan bokor yang terbuat dari kuningan yang sekarang dipajang. Melihat Bokor dan Pandapa, menurutnya, sama artinya mengajak kita memandang masa lalu dan menatap masa depan Kab. Kuningan. “Sama seperti lampu mobil depan dan lampu mobil belakang,” ujarnya berfilsapat.

Kemudian, apa kaitannya antara Bokor, Pandapa dengan Dinas Lingkungan Hidup di masa sekarang? Justru sangat berkaitan erat yaitu sistem kebaruan pemerintahan dari semula Kuningan adalah kerajaan menjadi Keadipatian dan kabupaten yang diresmikan oleh Pemerintahan Belanda.

Namanya sistem pemerintahan, tentu ada sangkut pautnya dari sistem tata negara. Jika Bokor adalah simbol pemerintahan baru. Maka pandapa adalah bentuk dari tata cara pemerintahan itu sendiri. Dimana masyarakat memberikan kepercayaan kepada pemimpinnya melalui seba atawa saptuan (kemudian menjadi sapton-red).

“Sama artinya Dinas Lingkungan Hidup sebagai penjaga dan perawat tata nilai yang sudah terbangun melalui simbol-simbol yang ada. Bukan berarti seluruh kebudayaan sebab lingkungan hidup merupakan bagian kecil dari sistem kebudayaan secara universal. Saya sambil contoh, baju merupakan bagian dari kebudayaan peradaban,” ucapnya.

Masih kata Wawan, taman, tugu, kebersihan itu merupakan bagian kecil dari kebudayaan yang harus mendapatkan perhatian. Karena akan menunjukan peradaban manusia pada jaman sekarang. Keindahan, Kebersihan, dan Keamanan (K-3) adalah respon manusia sekarang atas kehidupan lingkungan yang indah.

“Makanya, saya berusaha mentrasformasikan pemikiran ini menjadi proses lingkungan hidup yang baik. Untuk mengejawantahkan lingkungan yang baik, membuat program namanya Kuningan Geulis. Artinya Gerakan untuk Lingkungan Indah dan Sehat (Geulis),” pungkasnya. (kh)***

Facebook Comments

Check Also

Dinilai Peduli Terhadap Pekerja Perempuan, Dinkes Dianugerahi Penghargaan

KARTINI – Perempuan bekerja saat ini trennya semakin naik dan lembaga/perusahaan pun…